Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal

talkshow-perempuan-dukung-rokok-harus-mahal (2).jpg

Dengar ayam berkokok, jangan peluk bantal

Yang namanya rokok, harganya harus mahal

Begitulah pantun yang disampaikan sebagai pembukaan dalam talkshow #RokokHarusMahal #rokok50ribu sebagai program radio Ruang Publik KBR bersama tim Green Radio Pekanbaru, dengan narasumber yang luar biasa, Communication Manager Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Ibu Nina Samidi dan Wakil Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Riau, Ibu Dr Fauziah M.Kes pada Jum’at, 11 Mei 2018 pukul 09.00 WIB langsung dari Pekan Baru.

Talkshow ini diadakan di Hotel Pangeran, Jalan Jenderal Sudirman No. 371-373, Cinta Raja, Sail, Kota Pekanbaru dan disiarkan di 104 radio jaringan KBR di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dan 89,2 Power FM Jakarta, 96,7 Green Radio FM Pekan Baru, live streaming via Fanpage facebook: Kantor Berita Radio KBR dan website kbr.id atau melalui IOS search KBR Radio. Untuk interaktif telepon bebas pulsa dapat menghubungi nomor 08001403131, SMS/Whatsapp 08121188181, comment di kolom komentar facebook atau mention ke akun twitter @halokbr.

Perempuan-Dukung-Rokok-Harus-Mahal

Talkshow yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa harga rokok di Indonesia yang murah, membuat konsumsi rokok makin tak terkendali termasuk pada anak-anak dan keluarga miskin di Indonesia ini mengusung tema “Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal”. Karena perempuanlah yang berperan penting dalam menentukan anggaran keluarga. Banyak perempuan yang memiliki pengalaman menukar anggaran rumah tangganya untuk rokok, padahal uang tersebut dapat digunakan untuk hal-hal lain yang lebih berguna.

Membicarakan masalah rokok harus mahal artinya kita dihadapkan pada sebuah fakta bahwa harga rokok saat ini sangatlah murah.

“Menurut WHO, harga rokok di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia. Banyak ditemukan rokok seharga Rp. 5.000 per bungkus, yang berarti perbatangnya hanya seharga Rp. 500. Bila dirata-rata dari semua merk rokok yang ada, Indonesia masih masuk dalam jajaran negara dengan harga rokok yang paling murah di dunia, dengan nilai Rp. 1.000 per batangnya. Jangankan di dunia, di ASEAN pun Indonesia menduduki peringkat ke-3 dilihat dari sisi keterjangkauannya, setelah negara Singapura dan Brunei Darussalam. Keterjangkauan tersebut didasarkan pada pendapatan per kapita penduduk. Singapura dan Brunei Darussalam dapat dikatakan sebagai negara dengan harga rokok yang terjangkau karena pendapatan per kapita negara tersebut cukup besar, padahal harga rokok di Singapura adalah sekitar Rp. 120.000. Berbeda dengan Indonesia, yang memang memiliki pendapatan per kapita yang rendah”, Kata Ibu Nina Samidi.

Murahnya harga rokok dinilai menjadi penyebab tingginya jumlah perokok di Indonesia. The ASEAN Tobacco Control Report Tahun 2007 meyebutkan bahwa jumlah perokok di ASEAN mencapai 124.691 juta orang dan Indonesia menyumbang perokok terbesar, yakni 57.563 juta orang atau sekitar 46,16 persen.

Ibu Dr Fauziah menemukan fakta menarik ketika menjadi Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), mengenai persepsi calon haji yang membawa banyak rokok dengan tujuan untuk dijual di Arab Saudi, karena harga rokok di sana sangatlah mahal, mencapai 4 hingga 5 kali lipat harga rokok di Indonesia. Para perokok di Arab Saudi identik dengan orang kaya, yang hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu seperti juragan dan para pengusaha kaya.

Dalam beberapa waktu terakhir, banyak negara yang menaikkan harga rokok dengan signifikan. Kenaikan harga tersebut, memberikan dampak menurunnya angka perokok di negara-negara yang bersangkutan.

Sementara di Indonesia, perokok terus mengalami peningkatan. Data kementrian kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi perokok dari 27% pada tahun 1995, meningkat menjadi 36,3% pada tahun 2013. Artinya, jika 20 tahun yang lalu dari setiap 3 orang Indonesia 1 orang di antaranya adalah perokok, maka  dewasa ini dari setiap 3 orang Indonesia 2 orang di antaranya adalah perokok.

Lebih memprihatinkan lagi  adalah kebiasaan buruk merokok juga meningkat pada generasi muda. Data Kemenkes menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014. Dan yang lebih mengejutkan, adalah usia mulai merokok semakin muda (dini).  Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari  8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013.

Mengutip data hasil  penelitian di RS Persahabatan (2013) memperlihatkan bahwa tingkat kecanduan atau adiksi pada anak SMA yang merokok cukup tinggi, yaitu 16,8%. Artinya 1 orang dari setiap 5 orang remaja yang merokok,  telah mengalami kencaduan.

Ibu Dr Fauziah juga memiliki pengalaman terkait dengan rokok selama di Riau, beliau sering melihat siswa SMP yang berpakaian seragam di luar sekolah dengan santainya merokok.

Bahkan di suatu wilayah di Kalimantan Barat, anak-anak yang masih berumur 3 hingga 4 tahun sudah pernah menghisap rokok. Pemberian rokok yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya yang masih di bawah umur tersebut bertujuan untuk menenangkan sang anak ketika sedang menangis.

“Orang yang telah kecanduan dengan rokok, maka otaknya akan selalu terisi tentang rokok, padahal merokok merusak kesehatan dan menimbulkan banyak penyakit, salah satunya adalah penyakit jantung coroner”, kata Ibu Dr Fauziah.

Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2008, lebih dari 60 juta penduduk Indonesia mengalami ketidakberdayaan akibat dari adiksi nikotin rokok, dan kematian akibat mengkonsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per tahun.

350-risks-of-smoking-cigarettes

Tidak hanya merusak kesehatan, merokok juga dapat memicu rusaknya rumah tangga. Tidak sedikit cerita mengenai perceraian yang ditimbulkan akibat dari sang suami yang berpendapatan rendah, namun lebih memilih untuk berpisah dengan istri daripada berpisah dengan rokok.

“Menurut BPS, belanja rokok di Indonesia terutama di kalangan keluarga miskin sangatlah banyak. Pernah dilakukan suatu percobaan kepada perokok, bila ditanya apa yang akan mereka pilih dengan uang Rp. 10.000 antara nasi, rokok, dan lauk pauk, maka perokok tersebut akan memilih nasi dan rokok. Ironis ketika penghasilan mereka rendah, makan nasi tanpa lauk pauk sehingga tidak ada protein dan gizi yang masuk, ditambah lagi mereka merokok, maka efeknya akan sangat berbahaya”, kata Ibu Nina Samidi.

Oleh sebab itu, kampanye pengendalian tembakau dan rokok sangatlah perlu dilakukan, kita wajib membantu keluarga miskin dan anak-anak agar terhindar dari bahaya rokok. Perempuan sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu dalam sebuah keluarga memegang peranan yang sangat penting. Tidak hanya perempuan, semua pihak diharapkan berkontribusi terhadap pengendalian konsumsi rokok dengan mensosialisasikan gerakan “Rokok Harus Mahal”.

 

Apabila rokok mahal, maka orang-orang akan berpikir berulang kali untuk membeli rokok, konsumsi rokok terkendali, dompet aman, keluarga pun tenang.

Sumber:

Advertisements

1 thought on “Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s