MENGENAL BUDAYA MUSLIM DI ANDALUSIA MELALUI CERITA PENDEK ABDUL RAHMAN FOR ADINDA AZZAHRA TOUR

Abdul Rahman di Balik Budaya Muslim Andalusia

 Oleh: Benida

Di bawah sinar rembulan, Aku berdiri sendirian di sudut jalan sembari memperhatikan kerumunan yang memasuki La Maestranza, tempat adu banteng terbesar setelah Plaza Mexico yang berdiri sejak tahun 1765. Sebentar-sebentar bola mataku mengerjap seraya menggeleng-gelengkan kepala, seolah hendak mengenyahkan pikiran yang memenuhi isi kepala.

1

La Maestranza

Seakan ada yang menyeret langkah kakiku, aku berlari memecah kerumunan. Tak dipedulikan orang-orang yang tengah berdesak-desakan ingin menyaksikan pertunjukan adu banteng. Aku menerobos di antara tubuh-tubuh yang bahkan tak merasakan tubuh kurus seorang remaja lelaki melewatinya. Pupil mataku menatap seorang pria tua yang sedang sibuk membeli bantal kecil yang dijual di sekeliling plaza. Bantal yang digunakan sebagai alas duduk ketika menonton pertunjukkan. Pria dengan lilitan emas di jarinya, juga dompet tebal di sakunya membuat derap langkahku kian cepat. Ujung dompetnya menyembul dari saku celana jeansnya yang bermerek. Kumulai aksiku di tengah keramaian, aksiku berhasil dengan mulus. Kubalikkan badanku menjauh dari kerumunan. Dompet hitam hasil rampasan kusembunyikan dari balik bajuku.

Kaki jenjangku melangkah hingga sampailah di Orviga, pusat kegiatan dari 50 desa yang ada di wilayah Alpujarras yang menggambarkan warna-warni komunitas lokal, hippies, dan juga muslim yang hidup dalam keberagaman yang damai.

2

Pelarianku berhenti tepat di depan rumah khas Andalusia dengan pot-pot bunga yang menghiasinya. Degupan kencang jantungku menjadi saksi aksiku. Kutarik lembaran-lembaran euro dari dompet hitam itu. Aku bergegas memasukkan lembaran uang itu ke saku celanaku. Garis tipis senyumku tersirat di antara keringat yang menderai di wajah berdarah Eropa-Arab ku. Kubuang dompet itu ke tempat sampah sebelah rumah.

Detak jantung yang belum stabil kembali kuajak berlari menyusuri tiap-tiap ruang yang dihiasi ubin berdesain mudejar.

Kulihat papa masih menenun karpet jarapa dengan khusyu’, karpet tradisional Alpujarras. Setiap rumah di desa ini setidaknya memiliki satu alat tenun untuk mengerjakan kerajinan jarapa yang menjadi salah satu bukti sejarah kejayaan Islam di Andalusia. Alat tenun merupakan salah satu alat industri terpenting pada masa itu. Tak hanya dipakai untuk memproduksi karpet jarapa, tetapi pada masa itu lebih diutamakan untuk proses tenun tekstil dan sutra.

3

Kerajinan Jarapa

Tak kuhiraukan Papa yang sedang asyik dengan aktivitasnya. Aku berlalu di hadapannya, menaiki tangga bercat putih. Terbayang hamparan kasur empuk yang siap menangkap tubuhku.

“Abdul, barusan Papa ditelpon sama Alejandro, pelatih Flamenco mu. Katanya beberapa hari ini kamu tidak hadir di tempat latihan. Kenapa?” Suara Papa menghentikan langkahku menuju kamar.

Aku memang tergabung dalam sekolah tari Flamenco milik Alejandro, sekolah khusus anak-anak Andalusia yang beragama Islam. Tak jarang kami diundang dalam pesta-pesta rakyat di Andalusia untuk menarikan Tarian Flamenco.

Kata Alejandro, Flamenco adalah tarian yang dibawa dari Arab sebagai tarian Istana Moor pada abad ke-14 dan kemudian dikembangkan oleh kaum Gipsi yang tinggal di Andalusia dengan memodifikasi gaya klasik.

“Abdul! Jawab pertanyaan papa! Kemana saja kamu selama ini?” tegas Papa menghentikan aktivitasnya. Lamunanku buyar. Kubalas tatapan dingin Papa.

“Kenapa harus latihan? Percuma! Lagipula, aku tidak mendapatkan upah sepeser pun, kan?” ketusku.

“Kalau bukan kita yang melestarikan budaya siapa lagi? Bagaimana orang-orang tertarik jika pemainnya saja tidak semangat?” ujar papa sedikit membentak.

“Sudahlah, Pa. latihan menari Flamenco tidak akan membuat kita kaya. Aku sudah memiliki penghasilan yang lebih baik untuk mendaftar ESO (Education Secundaria Obligatoria). Daripada Papa, capek-capek menjadi penenun jarapa!” ujarku seraya pergi meninggalkan Papa menuju kamar.

* * *

4

Mezquita-Catedral Cordoba

Aku duduk di tepi jalan sekitar Mezquita-Catedral Cordoba yang berdiri megah di tengah keramaian komplek. Kupandangi wisatawan yang lalu lalang di depanku. Matahari telah meninggi, tapi satu mangsapun belum kudapatkan.

Aku menatap bangunan tua bergaya Moorish yang sedari tadi berdiri angkuh dihadapanku. Bangunan dengan tembok membentang tinggi memagari seluruh area. Disekililingnya tampak gerbang-gerbang tinggi berarsitektur Islam dengan warna khas emas dan ukiran kaligrafi. Seakan memiliki daya magis, bangunan itu mampu menyeret langkah kakiku. Aku memasuki gerbang utama bangunan tersebut yang membawaku masuk ke Patio de los Naranjos, sebuah taman dengan pohon jeruk dan kolam air mancur di tengahnya. Dari yang aku dengar, dahulu kolam tersebut digunakan oleh umat Islam untuk mengambil wudhu.

Kupandangi bangunan dengan gaya arsitektur yang menyatukan unsur-unsur agama Islam dan Kristen. Riuh pengunjung tak mengalihkan pandanganku untuk mengagumi bangunan yang usianya berabad-abad tersebut. Paras surya yang membuncah rupanya tak mampu memudarkan kegagahan dan keanggunan bangunan yang telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia ini.

“Cahaya di dalam Mezquita-Catedral Cordoba yang cenderung tamaram semakin menimbulkan rasa syahdu, benar bukan? Pencahayaan bangunan diperoleh dari 4.700 lampu minyak yang tergantung di antara pilar-pilar. Pilar-pilar ini berdiri teratur menyangga lengkungan tapal kuda yang menjulang hingga langit-langit. Terbuat dari marmer dan granit, pilar ini berjumlah 856 kolom yang berbaris seakan menyerupai labirin. Batu bata diselipkan berselang-seling di tiap lengkungannya, menciptakan pola merah-putih bergaris-garis yang memberikan karakter tersendiri pada bangunan ini. Lengkungan itu dibuat bertumpuk supaya pilar tetap mampu menyangga langit-langit.” Kata sang pemandu.

“Mezquita-Catedral Cordoba dulunya sebuah katedral bernama Visigoth St. Vincent. Pertama kali diubah menjadi masjid tahun 784 M dibawah kepemimpinan Abd Ar Rahman I. Bangunan ini kembali berubah menjadi katedral pada masa penaklukan tentara Kristen pada abad ke-16.” Aku larut dalam penjelasannya mengenai sejarah dan budaya yang menyebar luas di bangunan ini.

Keindahannya membuatku lupa pada tujuanku datang ke bangunan berwarna emas ini. Mataku liar menyapu cekat pengunjung yang berlalu dihadapanku. Aku mendekati sosok wanita yang tampak seperti seorang turis mancanegara. Ratusan wisatawan yang sesak memenuhi bangunan ini membuat aksiku kian mudah kujalani. Kubalikkan badanku dengan dompet yang kusembunyikan di balik saku celana.

“Papa?” gumamku terkejut.

Lelaki tua itu berdiri tepat di depanku. Wajahnya memerah. Kepalan tangannya nampak jelas, menandakan amarahnya yang sedang bergejolak. Papa mendekatiku yang masih menata jantung. Papa menarik tanganku dengan paksa, menyeretku menjauhi kerumunan.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Papa. Tatapannya tajam ke arahku.

“Em.. em..”

Aku tak mampu menjawab pertanyaan Papa. Tubuhku kaku. Menggigil. Aku tak menyangka, Papalah yang memergoki aksiku. Tatapan Papa nanar. Pendar-pendar kemarahan tergambar jelas dari sorot matanya.

“Sekarang, kembalikan dompet itu dan minta maaf pada wanita tadi!” perintah Papa tegas. Aku pasrah, tak mampu berkelit. Mata tajam Papa yang menatapku membuatku ngeri dan harus mengembalikan dompet yang sukar kudapatkan. Aku segera mengembalikan dompet itu, mengatakan pada wanita tadi bahwa aku tak sengaja menemukan dompet yang terjatuh.

“Masuk ke mobil!” perintah Papa.

Deru suara mobil butut peninggalan kakekku berjalan dengan amat lamban. Beribu tanda tanya bersarang di otakku. Sepatah katapun tak terlontar dari bibir Papa. Pandangannya lurus ke depan. Aku menyimpan segudang tanya dalam pikirku. Melempar bisu dalam mobil bercat hijau pudar.

Papa mengajakku berkeliling Andalusia. Dimulai dengan Giralda Tower, sebuah menara lonceng gereja yang sebenarnya adalah minaret tempat muadzin memanggil shalat. Papa bercerita bahwa setelah penaklukan sevilla di tahun 1248, maka dilakukan perataan Masjid Sevilla untuk kemudian dibangun gereja bergaya gothic.

7

Giralda Tower

Belum puas dengan Giralda Tower, selanjutnya Papa mengajakku ke Real Alcazar de Seville, yang menyimpan sejarah, budaya, dan seni dalam satu harmoni. Dari cerita yang pernah aku dengar kata Alcazar sendiri berasal dari Bahasa Arab Al-Qasr yang artinya istana. Aku dan Papa masuk melalui gerbang Puerta del Leon (Gerbang Singa) yang membawaku ke Patio del Leon, sebuah halaman tempat garnisun (pasukan penjaga benteng) AL Muwarak. Aku dapat melihat ukiran indah khas Maroko di Sala de la Justicia (Hall of justice).

Di dalam komplek Alcazar terdapat banyak bangunan. Salah satunya adalah Palacio de Don Pedro. Sebuah prasasti di bagian depan istana yang menceritakan tentang aliansi Raja Pedro I dengan pemimpin kerajaan Islam di Granada, Muhammad V. Kata Papa, saat Raja Pedro hendak membangun istana baru di dalam Alcazar, Muhammad V mengirimkan seniman terbaiknya. Tampak percampuran arsitektur Islam dan Kristen Mujedar yang unik.

8

Real Alcazar de Seville

Tak berhenti sampai di Real Alcazar de Seville, Papa mengajakku ke The Royal Palace of Alhambra dan Generalife, komplek istana dan benteng yang terkenal dengan arsitektur Islam dan Kristen serta kebun yang indah, yang merupakan peninggalan era kejayaan Islam di abad ke 13.

9

The Royal Palace of Alhambra dan Generalife

Dengan semangat yang belum padam, perjalanan berlanjut ke Kota Medina Azahara. Merupakan kota yang memiliki sistem tata kota yang baik dan indah. Dibangun pada 939 oleh Khalifah Cordoba, Abdul Rahman III. Memasuki wilayah ini, aku melihat sisa-sisa reruntuhan dan puing-puing bangunan. Terdapat sisa bangunan utama yang menggambarkan kemegahan bangunan ini di masa lalu. Istana kota seluas 112 hektar ini, membuatku membayangkan, betapa besarnya kekuasaan Islam pada masa itu. Keindahan dan kemegahan di sini menggambarkan kejayaan Islam yang pernah ada.

10

Kota Medina Azahara

Tak terasa hari beranjak sore, aku semakin menyadari pengaruh Islam yang sangat besar terhadap Andalusia. Papa mengajakku kembali ke Jembatan Romawi Cordoba yang berada di sekitar Mezquita-Catedral Cordoba. Jembatan ini dibangun pada abad 1 oleh Romawi untuk menggantikan jembatan kayu yang telah ada sebelumnya. Jembatan ini telah mengalami banyak penambahan bangunan, terutama pada abad pertengahan, ketika ditambahkan Calahorra Tower dan Puerta del Puente.

11

Roman Bridge Cordoba

Di tengah senja, dengan pemandangan Mezquita-Catedral Cordoba dan foreground sungai, Papa merangkul pundakku sembari bercerita.

“Abdul, kau tahu, mengapa namamu Abdul Rahman?” tanya Papa seraya memalingkan wajahnya ke arahku. Aku masih membisu, kubiarkan Papa asyik dengan ceritanya.

“Nama Abdul Rahman terinspirasi dari khalifah Cordoba yang berhasil mensukseskan bidang perdagangan dan kebudayaan, didirikannya banyak mahakarya bergaya Islami di Andalusia dipelopori olehnya. Puncak kejayaan Cordoba berlangsung di era pemerintahan Khalifah Abdul Rahman An-Nashir dan anaknya. Ketika itu, Cordoba mencapai puncak kejayaan hingga taraf kemakmuran yang belum pernah tercapai sebelumnya. Pembangunan pada masa itu tumbuh pesat. Bangunan-bangunan berarsitektur megah bermunculan. Pada abad IX dan X Masehi, terdapat lebih dari 200.000 rumah di dalam kota, 600 buah masjid, 900 public baths, 50 rumah sakit dan sejumlah pasar besar yang menjadi pusat dagang dan sentra ekonomi. Jejak kejayaan Islam di Cordoba tidak hanya meninggalkan bangunan-bangunan megah, namun mewariskan peradaban dan ilmu pengetahuan yang tak ternilai.”

12

Abdul Rahman I

“Tapi aku bukan seorang khalifah! Aku bukan Abdul Rahman kebanggaan Papa!” ketusku.

“Papa tahu, kamu tak harus menjadi khalifah. Tapi kamu bisa menyontoh Abdul Rahman,” ujar Papa.

“Ya, aku memang bisa menyontoh Abdul Rahman. Tapi tidak setelah Mama meninggal. Semua itu karena Papa! Papa yang telah menyebabkan Mama terperangkap dalam kobaran api. Saat itu, kemana saja Papa?” emosiku mulai beranjak. Teringat kejadian satu tahun lalu. Aku hanya melihat jasad Mama yang tergulai kaku setelah pulang sekolah. Asap-asap mengepul.

Bulir-bulir tetesan air mata membasahi wajah letih Papa. Sesekali ia menyeka air matanya yang terlanjur merintik. Entah karena menyesal atau sedih melihatku. Aku tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.

“Papa tahu, kamu selalu menyalahkan Papa atas kejadian itu,”

“Ya. Karena Papa memang salah. Harusnya Papa bisa menolong Mama. Bukankah Papa selalu menenun di rumah bersama Mama?” aku memotong kata-kata Papa.

“Saat itu… Papa sedang sholat.” ujar Papa merintih. Papa diam sejenak mengatur nafas untuk menahan perih di hati.

“Papa juga tidak menyangka akan seperti itu. Sebelum Papa pergi ke Masjid, Mama masih baik-baik saja. Bahkan, Mama sempat mengajak Papa bercanda. Papa juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi kita harus menerima kenyataan. Kita harus yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita. Allah punya rencana sendiri untuk kita, Abdul.” ujar Papa

Aku tercekat. Selama ini memang aku sering menyalahkan Papa, “Kenapa Papa tidak cerita kalau Papa sedang sholat?”

Papa menghela nafas panjang, “Karena Papa tidak ingin melihatmu sedih. Setiap kali Papa menyinggung tentang Mama, wajahmu langsung berubah. Papa tidak tega.”

Aku semakin tertunduk. Ternyata lelaki berahang keras di sampingku sangat menyayangiku.

“Mamamu sangat mengagumi Abdul Rahman,” Papa mengusap kristal-kristal bening yang mengalir dari bola matanya.

Papa melanjutkan perkataannya, “Mama ingin melihatmu seperti tokoh kebanggaannya, maka ia memberimu nama Abdul Rahman.”

Aku menatap Papa tak berkedip, “Jadi…”

“Ya Nak, namamu adalah pemberian Mamamu. Abdul Rahman seorang khalifah. Khalifah tak sepatutnya melakukan hal-hal yang buruk. Jika Mama masih hidup, pasti Mama akan sedih melihatmu mencuri. Kamu harus seperti Abdul Rahman, dengan keuletanmu pasti kamu bisa mengubah kehidupan kita Nak,” cerita Papa panjang lebar.

Rengkuhan hangat menyapa relung hatiku. Aku seakan mendapat tamparan lembut tentang semua kebodohanku. Jembatan Romawi menjadi saksi penyesalanku, membuatku tersadar akan hakekat hidup ini.

Langit telah beranjak gelap. Papa mengajakku pulang ke rumah. Di perjalanan, aku menyusun tekad untuk memenuhi keinginan Mama. Meyakinkan Mama dan Papa bahwa akulah Abdul Rahman kebanggan mereka. Abdul Rahman yang ulet, sukses dan cerdas.

* * *

13

Caballerizas Reales

Sang surya telah jauh melayang di hamparan langit Andalusia. Panas yang membakar tak menyurutkan semangat para pengunjung. Pancaran sinarnya membuat pesona siang kian ramah. Riuh pengunjung memadati Caballerizas Reales, untuk menyaksikan pertunjukkan kuda yang dalam beberapa atraksinya dipadukan dengan musik dan Tari Flamenco.

Aku mulai menggerak-gerakkan tubuhku mengikuti irama. Tarian Flamenco yang telah lama kutekuni bersama Alejandro dan penari lain membuatku lebih percaya diri. Aku dan penari lain berhasil menggertak pertunjukan kuda ini menjadi makin meriah. Menari lihai dengan improvisasi dan gerakan penuh semangat untuk menciptakan pertunjukkan yang enerjik dan menarik. Hentakan kaki dan tepukan tangan yang ritmik menjadi ciri khas dari tarian ini.

14

Aku semakin larut dalam tarian Flamenco. Deretan manusia yang membanjiri pertunjukkan semakin membuatku bersemangat mempertontonkan kelihaianku dalam menari Flamenco.

Aku lebih memilih menjadi penari Flamenco. Mengurung nafsuku untuk tidak mencuri lagi. Meskipun hasilnya tidak seberapa, tapi aku dapat melestarikan budayaku. Mungkin dengan kondisi keluargaku yang seperti ini, aku harus lebih ulet dalam belajar agar mendapat beasiswa, serta untuk meraih impian terbesarku saat ini, yaitu berkeliling dunia untuk menarikan Tarian Flamenco di atas panggung besar yang megah. [*]

Malang, 2018.

 

Semoga cerita ini mampu memberikan gambaran wisata muslim di Andalusia sekaligus memberikan pembelajaran moral untuk selalu melestarikan dan mencintai budaya bangsa,  optimis dan ulet dalam menghadapi kehidupan 😀

“Selama kita masih punya tekad yang terpelihara dalam semangat, maka tiada kata terlambat untuk memulai sebuah awal yang baru”.

Untuk paket tour muslim berpengalaman, terpercaya, dengan harga terbaik dan kepastian keberangkatan, jangan ragu untuk kunjungi https://adindaazzahra.com

Sumber

22 thoughts on “MENGENAL BUDAYA MUSLIM DI ANDALUSIA MELALUI CERITA PENDEK ABDUL RAHMAN FOR ADINDA AZZAHRA TOUR”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s