Kisah Kekasih Tentara yang Lebih Memilih menjadi Kekasih Allah

This is real story from my besties

Sebelumnya gue mau cerita seberapa dekat gue dengan pasangan gue sebelumnya.

***

Setelah sekian lama, akhirnya gue bertemu dengan seseorang yang *click sama gue.

Banyak kenangan yang uda gue lalui sama dia, mulai dari dandan bareng, gue make up in dia, gue bedakin, gue lipstikin, gue alisin sampe jadi cantik dan dia ketawa-ketawa aja liat mukanya.

Kita makan bareng, jalan bareng, sampe pegel-pegel, dan akhirnya gue sering banget mijitin dia entah saat di atas sepeda motor atau di jalan saking capeknya dia, dan pulangnya kita maskeran bareng, walaupun tentara dia rajin maskeran untuk menjaga kulitnya gaes wkwk.

Dianya jail banget, hobi banget godain gue, suka pura-pura cekek-cekek leher gue (gj banget kan) 😑

Sepanjang hari ngomongin hal-hal dari yang penting sampe yang gak penting, dari bahas agama sampe bahas bagusan mana jurusan IPS atau IPA. Karena dia IPA dan gue IPS jadi dia sengaja pengen jelek-jelekin jurusan IPS 😑

Kita belajar bareng bahasa Inggris, sampe kecampur-campur bahasa tegal wkwk

Gak cuma bercanda bareng, kita sempet nangis-nangisan bareng, but I cant tell you guys apa yang kita tangisi, karena itu cerita yang cukup sensitif untuk kita.

Intinya tuh ada aja yang kita bahas.

Walaupun dia jail dan ngeselin, dia itu orang yang romantis menurut gue, dia orang yang rela ngelakuin apa aja untuk gue.

Sudah sedekat itu kita, tapi hati penuh rasa bersalah dan dosa karena status kita haram dalam ikatan yang disebut pacaran, bukan halal dalam ikatan pernikahan. Rasa bersalah itu benar-benar sampai kebawa mimpi. Kita sama-sama paham agama tapi kenapa tetap menjalankan larangan-Nya? Itulah pertanyaan yang selalu mengganjal di kepala kita. Berkali-kali kita coba untuk bertaubat dan memutus hubungan, nyatanya diantara kita berdua tidak ingin berpisah, berat, kita tidak kuat.

Ps* dia belum bisa menikah karena pekerjaannya mengaharuskan dia single sampai beberapa tahun hingga naik pangkat – yang tau hal-hal berkaitan dengan dunia kemiliteran pasti mengerti :”)

Gue galau dalam posisi ini 😭

Tapi setelah gue pikir, untuk apa mempertahankan hubungan yang menyenangkan namun merisaukan? Bukankah akan lebih bahagia bila mempertahankan hubungan yang tidak hanya menyenangkan namun juga damai dan tenang karena telah halal?

Finally I take a choice, gue harus melepasnya secara perlahan. Gue block wa nya atas persetujuan dia, untuk membatasi komunikasi 🙂 ini sulit banget sumpah, kalau biasanya ada seseorang yang menjadi alasan kenapa gue buka hp, sekarang udah enggak. Tapi kita udah berkomitmen untuk istiqomah.

Ini adalah awal kita menuju jalan yang baik, karena jodoh tidak lari kemana. Bila kita jodoh, kita akan dipertemukan kembali dalam ikatan yang halal, kalaupun tidak, berarti Allah telah mempersiapkan jodoh yang lebih baik untuk kita. Kita harus percaya pada rencana Allah. Di sini gue belajar IKHLAS.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” – (QS Al-Baqarah ayat 216)

“…mereka membuat rencana, dan
Allah pun membuat rencana (pula). Dan
Allah sebaik- baik perencana” (Al-Anfal:30)

“Dan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik-baik perencana.” (Ali Imran: 54)

Ketiga ayat ini membuat gue semakin yakin bahwa Allah adalah pembuat rencana terbaik.

“Jika namamu tertulis di Lauhul Mahfudz untuk diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita.”
“Tugasku bukan mencarimu, tapi menshalihkan diriku”

Dan quotes inilah yang semakin membulatkan tekad gue, SELAMAT BERJUANG AKHI UKHTI ❤

Nb: Sekilas cerita gue lebih mirip curhat yang diselipin nostalgia, tapi di sini gue bertujuan mengingatkan bahwa seberapa nyaman pun kita dengan orang tersebut, tapi bila kita masih terikat status yang gak jelas (kaya pacaran), lebih baik ikhlaskan, percaya, yakin bahwa dibalik itu semua ada sesuatu yang lebih baik telah menanti, karena Allah telah menjajikannya melalui ayat-ayatnya 🙂

Advertisements

WISATA EDUKASI MUSEUM KESEHATAN JIWA YANG BIKIN BULU KUDUK BERDIRI

Wilayah Kabupaten Malang tak hanya memiliki potensi wisata alam, pegunungan dan pantai saja. Namun, tak banyak masyarakat yang megetahui keberadaan wisata sejarah dan edukasi tentang kesehatan yaitu Museum Kesehatan Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat. Bahkan saya yang telah tinggal 20 Tahun di Malang sempat mengernyitkan dahi ketika mendengar nama museum tersebut, “Apa benar ada museum seperti itu di Malang? Saya taunya museum angkut (hehe)”.

Setelah mencari informasi kesana kemari, ternyata museum ini memang benar adanya, bahkan telah lama berdiri sejak ratusan tahun yang lalu, sepertinya memang saya yang kurang update, sehingga perlu sering-sering membuka blog yang menyajikan informasi wisata ter-update seperti www.travelingyuk.com.

Wisata sejarah yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang ini, merupakan museum kesehatan jiwa pertama kali dan satu-satunya di Indonesia yang menyajikan sekitar 700 koleksi benda-benda dan dokumen kuno yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Rumah Sakit Jiwa peninggalan Belanda tersebut. Wow, menarik bukan.

Saat memasuki pintu masuk museum saya disambut oleh sepasang patung pria dan wanita yang memakai baju dokter, dimana baju ini digunakan sekitar tahun 1912 pada zaman pemerintahan kolonial Belanda.

fitryparera

via instagram @fitryparera

Di dalam museum saya disajikan deretan koleksi alat kesehatan di Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat untuk mengedukasi masyarakat maupun pengunjung. Dimana koleksi benda yang terpampang di dalam museum terbilang sadis untuk digunakan pada abad ke-19 silam.

  1. Alat pengiris otak

rsj3N7BXY

Bila pengunjung melihat pasti begidik. Alat-alat ini diletakkan di laboratotiun zaman dulu untuk meneliti otak manusia beserta gangguan-gangguannya.

Pada tahun 1929 sampai 1940, di rumah sakit jiwa ini memang pernah dikembangkan menjadi pusat penelitian saraf dan otak.

  1. Bak hydrotherapy

rsj1ODXqj

Peralatan ini digunakan tenaga medis RSJ pada abad ke-19 untuk merendam pasien yang kambuh agar tenang dan tidak bisa memberontak.

  1. Sepasang straight jacket.

FOTO-4

Yakni jaket putih dengan banyak tali serta gesper dengan bukaan di bagian punggung. Di ujung lengan terdapat tali yang gunanya untuk mengaitkan dua tangan ke belakang dengan posisi sedekap.

Lalu ada juga pasung kayu. Biasanya digunakan dengan posisi duduk, dua kaki dimasukkan ke dua lubang kayu yang bisa dibuka tutup.

  1. Ada rantai kaki, pasung tangan, gergaji tulang yang digunakan pasien yang mengalami gangguan jiwa.

rsj4cUFYb

  1. Pasung kayu yang biasanya digunakan dengan posisi duduk dua kaki dimasukkan ke dua lubang kayu yang bisa dibuka tutup.

hafizagassi

via instagram @hafizagassi
  1. Ada 30 lukisan berbagai aliran karya pasien RSJ Lawang.

Ada lukisan aliran realis yang menggambarkan pemandangan alam gunung lengkap dengan sawahnya, lukisan bunga, dan lukisan wajah manusia dengan garis-garis wajah yang terlihat sempurna untuk karya pasien RSJ.

Lukisan itu dikerjakan pasien yang memang asalnya memiliki bakat melukis. Mereka dikategorikan dalam pasien menjelang normal. Artinya perilaku dan tingkah laku mereka sudah terlihat seperti manusia tanpa gangguan jiwa, meskipun secara kejiwaan belum normal.

Rumah Sakit Jiwa memang menyediakan ruang Kreasi yang bisa dimanfaatkan semua pasien untuk mengeksplorasi bakat minat mereka.

paulpolos.jpg

via instagram @paulpolos

Selain alat-alat sadis tersebut, museum ini bahkan memiliki koleksi berupa janin dimana dalam keterangan tertulis tidak diketahui asal dan sejak kapan janin ini terdapat di museum tersebut, seram ya guys.

Bagi yang suka berkunjung ke tempat-tempat unik dan memiliki nilai sejarah dengan sensasi bulu kuduk berdiri, wajib untuk mengunjungi Museum Kesehatan jiwa ini. Happy vacation guys.

 

Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal

talkshow-perempuan-dukung-rokok-harus-mahal (2).jpg

Dengar ayam berkokok, jangan peluk bantal

Yang namanya rokok, harganya harus mahal

Begitulah pantun yang disampaikan sebagai pembukaan dalam talkshow #RokokHarusMahal #rokok50ribu sebagai program radio Ruang Publik KBR bersama tim Green Radio Pekanbaru, dengan narasumber yang luar biasa, Communication Manager Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Ibu Nina Samidi dan Wakil Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Riau, Ibu Dr Fauziah M.Kes pada Jum’at, 11 Mei 2018 pukul 09.00 WIB langsung dari Pekan Baru.

Talkshow ini diadakan di Hotel Pangeran, Jalan Jenderal Sudirman No. 371-373, Cinta Raja, Sail, Kota Pekanbaru dan disiarkan di 104 radio jaringan KBR di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dan 89,2 Power FM Jakarta, 96,7 Green Radio FM Pekan Baru, live streaming via Fanpage facebook: Kantor Berita Radio KBR dan website kbr.id atau melalui IOS search KBR Radio. Untuk interaktif telepon bebas pulsa dapat menghubungi nomor 08001403131, SMS/Whatsapp 08121188181, comment di kolom komentar facebook atau mention ke akun twitter @halokbr.

Perempuan-Dukung-Rokok-Harus-Mahal

Talkshow yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa harga rokok di Indonesia yang murah, membuat konsumsi rokok makin tak terkendali termasuk pada anak-anak dan keluarga miskin di Indonesia ini mengusung tema “Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal”. Karena perempuanlah yang berperan penting dalam menentukan anggaran keluarga. Banyak perempuan yang memiliki pengalaman menukar anggaran rumah tangganya untuk rokok, padahal uang tersebut dapat digunakan untuk hal-hal lain yang lebih berguna.

Membicarakan masalah rokok harus mahal artinya kita dihadapkan pada sebuah fakta bahwa harga rokok saat ini sangatlah murah.

“Menurut WHO, harga rokok di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia. Banyak ditemukan rokok seharga Rp. 5.000 per bungkus, yang berarti perbatangnya hanya seharga Rp. 500. Bila dirata-rata dari semua merk rokok yang ada, Indonesia masih masuk dalam jajaran negara dengan harga rokok yang paling murah di dunia, dengan nilai Rp. 1.000 per batangnya. Jangankan di dunia, di ASEAN pun Indonesia menduduki peringkat ke-3 dilihat dari sisi keterjangkauannya, setelah negara Singapura dan Brunei Darussalam. Keterjangkauan tersebut didasarkan pada pendapatan per kapita penduduk. Singapura dan Brunei Darussalam dapat dikatakan sebagai negara dengan harga rokok yang terjangkau karena pendapatan per kapita negara tersebut cukup besar, padahal harga rokok di Singapura adalah sekitar Rp. 120.000. Berbeda dengan Indonesia, yang memang memiliki pendapatan per kapita yang rendah”, Kata Ibu Nina Samidi.

Murahnya harga rokok dinilai menjadi penyebab tingginya jumlah perokok di Indonesia. The ASEAN Tobacco Control Report Tahun 2007 meyebutkan bahwa jumlah perokok di ASEAN mencapai 124.691 juta orang dan Indonesia menyumbang perokok terbesar, yakni 57.563 juta orang atau sekitar 46,16 persen.

Ibu Dr Fauziah menemukan fakta menarik ketika menjadi Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), mengenai persepsi calon haji yang membawa banyak rokok dengan tujuan untuk dijual di Arab Saudi, karena harga rokok di sana sangatlah mahal, mencapai 4 hingga 5 kali lipat harga rokok di Indonesia. Para perokok di Arab Saudi identik dengan orang kaya, yang hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu seperti juragan dan para pengusaha kaya.

Dalam beberapa waktu terakhir, banyak negara yang menaikkan harga rokok dengan signifikan. Kenaikan harga tersebut, memberikan dampak menurunnya angka perokok di negara-negara yang bersangkutan.

Sementara di Indonesia, perokok terus mengalami peningkatan. Data kementrian kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi perokok dari 27% pada tahun 1995, meningkat menjadi 36,3% pada tahun 2013. Artinya, jika 20 tahun yang lalu dari setiap 3 orang Indonesia 1 orang di antaranya adalah perokok, maka  dewasa ini dari setiap 3 orang Indonesia 2 orang di antaranya adalah perokok.

Lebih memprihatinkan lagi  adalah kebiasaan buruk merokok juga meningkat pada generasi muda. Data Kemenkes menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014. Dan yang lebih mengejutkan, adalah usia mulai merokok semakin muda (dini).  Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari  8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013.

Mengutip data hasil  penelitian di RS Persahabatan (2013) memperlihatkan bahwa tingkat kecanduan atau adiksi pada anak SMA yang merokok cukup tinggi, yaitu 16,8%. Artinya 1 orang dari setiap 5 orang remaja yang merokok,  telah mengalami kencaduan.

Ibu Dr Fauziah juga memiliki pengalaman terkait dengan rokok selama di Riau, beliau sering melihat siswa SMP yang berpakaian seragam di luar sekolah dengan santainya merokok.

Bahkan di suatu wilayah di Kalimantan Barat, anak-anak yang masih berumur 3 hingga 4 tahun sudah pernah menghisap rokok. Pemberian rokok yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya yang masih di bawah umur tersebut bertujuan untuk menenangkan sang anak ketika sedang menangis.

“Orang yang telah kecanduan dengan rokok, maka otaknya akan selalu terisi tentang rokok, padahal merokok merusak kesehatan dan menimbulkan banyak penyakit, salah satunya adalah penyakit jantung coroner”, kata Ibu Dr Fauziah.

Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2008, lebih dari 60 juta penduduk Indonesia mengalami ketidakberdayaan akibat dari adiksi nikotin rokok, dan kematian akibat mengkonsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per tahun.

350-risks-of-smoking-cigarettes

Tidak hanya merusak kesehatan, merokok juga dapat memicu rusaknya rumah tangga. Tidak sedikit cerita mengenai perceraian yang ditimbulkan akibat dari sang suami yang berpendapatan rendah, namun lebih memilih untuk berpisah dengan istri daripada berpisah dengan rokok.

“Menurut BPS, belanja rokok di Indonesia terutama di kalangan keluarga miskin sangatlah banyak. Pernah dilakukan suatu percobaan kepada perokok, bila ditanya apa yang akan mereka pilih dengan uang Rp. 10.000 antara nasi, rokok, dan lauk pauk, maka perokok tersebut akan memilih nasi dan rokok. Ironis ketika penghasilan mereka rendah, makan nasi tanpa lauk pauk sehingga tidak ada protein dan gizi yang masuk, ditambah lagi mereka merokok, maka efeknya akan sangat berbahaya”, kata Ibu Nina Samidi.

Oleh sebab itu, kampanye pengendalian tembakau dan rokok sangatlah perlu dilakukan, kita wajib membantu keluarga miskin dan anak-anak agar terhindar dari bahaya rokok. Perempuan sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu dalam sebuah keluarga memegang peranan yang sangat penting. Tidak hanya perempuan, semua pihak diharapkan berkontribusi terhadap pengendalian konsumsi rokok dengan mensosialisasikan gerakan “Rokok Harus Mahal”.

 

Apabila rokok mahal, maka orang-orang akan berpikir berulang kali untuk membeli rokok, konsumsi rokok terkendali, dompet aman, keluarga pun tenang.

Sumber:

ASYIKNYA NAIK FERRY

Pengalaman Penuh Cinta dengan KMP Legundi

Bukan titik yang membuat tinta, tapi tinta yang membuat titik.

Bukan cantik yang membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik.

Assalamualaikum wr. wb

Perkenalkan nama saya Putri, kali ini saya akan menceritakan pengalaman cantik penuh cinta bersama keempat sahabat saya, Yasmin, Kadek, Yuda, dan Jo, yang pergi menuju Lombok dengan menggunakan kapal Ferry yang dikelola oleh PT. ASDP Indonesia Ferry.

KMPLegundi

KMP Legundi

Sebuah pengalaman tak terlupakan saat liburan tahun baru 2016 silam. Kebetulan saat itu, PT. ASDP Indonesia Ferry baru meluncurkan proyek percontohan pelayaran jarak jauh menggunakan KMP Legundi dengan rute yang kami idamkan yaitu, Surabaya – Lombok. Meski baru percobaan, namun saat itu angkutan laut ini banyak diminati.

Sebenarnya, pilihan angkutan laut sebagai alat transportasi untuk mencapai Lombok sempat terhambat beberapa kendala. Salah satu diantara teman-teman saya, Yasmin, ternyata mengidap Thalassphobia atau ketakutan berlebihan terhadap laut. Padahal kami sangat berharap dapat berlibur dengan kapal Ferry yang kami yakini akan dihiasi dengan keseruan dan kebahagiaan. Selain itu, menempuh perjalanan dengan menggunakan kapal Ferry bisa lebih cepat dibanding dengan menempuh perjalanan darat, karena waktu liburan kami cukup terbatas. Pun dengan kapal biayanya jadi lebih murah dibandingkan menggunakan pesawat, karena budget liburan kami sebagai seorang mahasiswa juga terbatas. Itulah mengapa saya selalu suka dengan ide bepergian naik kapal.

Tidak ada cara selain meyakinkan Yasmin bahwa laut tidak seseram yang Ia kira. Tidak mudah memang, kami harus pintar-pintar mengucapkan kalimat yang mampu meningkatkan keinginannya pergi ke Lombok dengan waktu dan biaya yang terbatas. Setelah seluruh rayuan dan kata mutiara keluar dari mulut kami, akhirnya Yasmin mengiyakan. Yaey, kami sangat senang dengan keputusannya.

Saya masih ingat, saat itu pemesanan tiket masih dilakukan menggunakan sistem manual dengan transaksi secara tunai. Namun, dari informasi terbaru yang saya peroleh, saat ini PT. ASDP Indonesia Ferry telah meningkatkan pelayanannya dengan menggunakan sistem pembelian tiket secara online, sehingga memudahkan penumpang untuk mengatur waktu keberangkatan, dan mencegah terjadinya penumpukan pembelian tiket di pelabuhan. Inovatif menurut saya.

***

Selasa, 5 Januari 2016. Tibalah hari yang dinanti, yaitu hari keberangkatan kami dengan KMP Legundi. Kami semua berangkat dengan hati penuh debar karena tidak sabar melepas penat dari kejenuhan yang menyekap kami selama kuliah. Semuanya, kecuali Yasmin.

Wajahnya dipenuhi ketakutan, tak pernah lepas tangannya dari genggaman saya, tak henti-hentinya pula saya meyakinkan dia bahwa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Matanya selalu tertutup sejak sebelum naik ke kapal.

Setelah memasuki kapal, kami memilih tempat duduk yang kami inginkan, sebab di kapal ini tidak ada perbedaan kelas tempat duduk. Di sinilah Yasmin berani membuka matanya, dan di sini pulalah raut wajah ketakutannya berubah menjadi raut wajah yang sumringah. Dia tampak senang dengan interior Kapal Ferry yang modern. Kami sempat dibuat bingung sekaligus senang dengan tingkah drastisnya yang aneh. Tetapi tak heran pula, karena interior dari kapal ini memang memanjakan mata. Sepertinya, KMP Legundi ini mampu membuat Yasmin terbuai hingga lupa dengan ketakutan terbesarnya (haha).

Bepergian dengan menggunakan kapal dalam pikiran sebagian orang, akan berakhir dengan sangat tidak nyaman, seperti tidur di emper gang sempit dalam kapal, hawa panas bercampur aroma pesing, dilangkahi atau tersandung kaki orang yang melintas, mabuk laut, dan hal-hal ironis lainnya.

Tapi, kami menganggap hal tersebut sebagai mitos bagi KMP Legundi. Setiap ruangan dalam kapal ini telah dilengkapi dengan AC. Kebetulan, Jo yang kurang suka dengan AC mengajak kami menuju dek bagian atas untuk menikmati hembusan angin laut. Kapal ini memang mampu memberikan banyak pilihan bagi penumpangnya.

Yasmin, tak luput dari pengawasan. Sedari tadi kami bertekad untuk menghilangkan Thalassphobia-­nya. Dek atas menjadi saksi perjuangan kami sebagai sahabat. Kami yakin bahwa cara menyembuhkan phobia adalah dengan berani menghadapi ketakutan terbesarnya.

Namun, kami tak menduga hasilnya akan secepat ini. Yasmin tidak lagi menutup mata dan menggenggam tanganku dengan erat saat memandangi laut, Ia bahkan tersenyum lebar pertanda sedang menikmati maha karya sang pencipta. Senyumnya pun menunjukkan bahwa Ia sedang menertawakan dirinya sendiri yang selama ini takut dengan hal seindah ini. Perasaan kami saat itu campur aduk, antara tenang, senang, terhibur dan terharu.

1525924702979 (4).jpg

Kami larut dalam keindahan laut hingga lupa bahwa waktu telah menunjukkan jam makan siang. KMP Legundi ini dilengkapi dengan 3 cafetaria di dalam ruangan dan 1 cafetaria di luar ruangan yang memudahkan kami untuk mengisi perut yang telah meronta karena lapar.

Setelah makan, tak lupa kami menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim untuk beribadah. Saya, Yasmin, dan Yuda menuju mushola yang berada di dek atas, sementara Kadek yang beragama Hindu dan Jo yang beragama Katholik masih melanjutkan obrolan mereka mengenai agama masing-masing. Toleransi sangat dijunjung dalam persahabatan kami.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, bulan telah menampakkan dirinya. Di bawah sinar rembulan, kami abadikan setiap momen di kapal Ferry ini dengan berfoto bersama, sebelum akhirnya tertidur lelap di atas kasur. Yuda tampaknya lebih suka tidur di kursi penumpang yang sudah menggunakan model reclining seat, sehingga dapat diatur sendiri untuk posisi rebahan.

***

Kami semua bangun tidur dalam kondisi segar. Yasmin tampak bersemangat menuju kamar mandi yang katanya cukup bersih, sementara saya dan teman-teman lainnya lebih memilih membereskan barang bawaan karena tak lama lagi kami akan sampai di Lombok. Sebelum itu, kami disuguhi sarapan berupa nasi kotak dan air gelas yang disediakan secara gratis bagi para penumpang. Cukup dengan menunjukkan tiket kami kepada petugas.

Setelah 21 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Lombok dengan perasaan terharu. Lombok yang selama ini menjadi tujuan destinasi wisata yang sangat kami idamkan sejak masih berstatus mahasiswa baru, akhirnya terwujud. Terik matahari Lombok saat itu tak menyurutkan semangat dan langkah kami untuk melanjutkan petualangan.

Terima kasih PT. ASDP Indonesia Ferry, telah mewujudkan impian lama kami melebihi ekspetasi dengan KMP Legundi.

 

Untuk informasi lebih lengkap kunjungi https://www.indonesiaferry.co.id

#AsyinyaNaikFerry

#KapalFerry

#ASDPIndonesiaFerry

 

 

Sumber gambar KMP Legundi:

https://www.indonesiaferry.co.id/siaran_pers/index/69

 

MENGENAL BUDAYA MUSLIM DI ANDALUSIA MELALUI CERITA PENDEK ABDUL RAHMAN FOR ADINDA AZZAHRA TOUR

Abdul Rahman di Balik Budaya Muslim Andalusia

 Oleh: Benida

Di bawah sinar rembulan, Aku berdiri sendirian di sudut jalan sembari memperhatikan kerumunan yang memasuki La Maestranza, tempat adu banteng terbesar setelah Plaza Mexico yang berdiri sejak tahun 1765. Sebentar-sebentar bola mataku mengerjap seraya menggeleng-gelengkan kepala, seolah hendak mengenyahkan pikiran yang memenuhi isi kepala.

1

La Maestranza

Seakan ada yang menyeret langkah kakiku, aku berlari memecah kerumunan. Tak dipedulikan orang-orang yang tengah berdesak-desakan ingin menyaksikan pertunjukan adu banteng. Aku menerobos di antara tubuh-tubuh yang bahkan tak merasakan tubuh kurus seorang remaja lelaki melewatinya. Pupil mataku menatap seorang pria tua yang sedang sibuk membeli bantal kecil yang dijual di sekeliling plaza. Bantal yang digunakan sebagai alas duduk ketika menonton pertunjukkan. Pria dengan lilitan emas di jarinya, juga dompet tebal di sakunya membuat derap langkahku kian cepat. Ujung dompetnya menyembul dari saku celana jeansnya yang bermerek. Kumulai aksiku di tengah keramaian, aksiku berhasil dengan mulus. Kubalikkan badanku menjauh dari kerumunan. Dompet hitam hasil rampasan kusembunyikan dari balik bajuku.

Kaki jenjangku melangkah hingga sampailah di Orviga, pusat kegiatan dari 50 desa yang ada di wilayah Alpujarras yang menggambarkan warna-warni komunitas lokal, hippies, dan juga muslim yang hidup dalam keberagaman yang damai.

2

Pelarianku berhenti tepat di depan rumah khas Andalusia dengan pot-pot bunga yang menghiasinya. Degupan kencang jantungku menjadi saksi aksiku. Kutarik lembaran-lembaran euro dari dompet hitam itu. Aku bergegas memasukkan lembaran uang itu ke saku celanaku. Garis tipis senyumku tersirat di antara keringat yang menderai di wajah berdarah Eropa-Arab ku. Kubuang dompet itu ke tempat sampah sebelah rumah.

Detak jantung yang belum stabil kembali kuajak berlari menyusuri tiap-tiap ruang yang dihiasi ubin berdesain mudejar.

Kulihat papa masih menenun karpet jarapa dengan khusyu’, karpet tradisional Alpujarras. Setiap rumah di desa ini setidaknya memiliki satu alat tenun untuk mengerjakan kerajinan jarapa yang menjadi salah satu bukti sejarah kejayaan Islam di Andalusia. Alat tenun merupakan salah satu alat industri terpenting pada masa itu. Tak hanya dipakai untuk memproduksi karpet jarapa, tetapi pada masa itu lebih diutamakan untuk proses tenun tekstil dan sutra.

3

Kerajinan Jarapa

Tak kuhiraukan Papa yang sedang asyik dengan aktivitasnya. Aku berlalu di hadapannya, menaiki tangga bercat putih. Terbayang hamparan kasur empuk yang siap menangkap tubuhku.

“Abdul, barusan Papa ditelpon sama Alejandro, pelatih Flamenco mu. Katanya beberapa hari ini kamu tidak hadir di tempat latihan. Kenapa?” Suara Papa menghentikan langkahku menuju kamar.

Aku memang tergabung dalam sekolah tari Flamenco milik Alejandro, sekolah khusus anak-anak Andalusia yang beragama Islam. Tak jarang kami diundang dalam pesta-pesta rakyat di Andalusia untuk menarikan Tarian Flamenco.

Kata Alejandro, Flamenco adalah tarian yang dibawa dari Arab sebagai tarian Istana Moor pada abad ke-14 dan kemudian dikembangkan oleh kaum Gipsi yang tinggal di Andalusia dengan memodifikasi gaya klasik.

“Abdul! Jawab pertanyaan papa! Kemana saja kamu selama ini?” tegas Papa menghentikan aktivitasnya. Lamunanku buyar. Kubalas tatapan dingin Papa.

“Kenapa harus latihan? Percuma! Lagipula, aku tidak mendapatkan upah sepeser pun, kan?” ketusku.

“Kalau bukan kita yang melestarikan budaya siapa lagi? Bagaimana orang-orang tertarik jika pemainnya saja tidak semangat?” ujar papa sedikit membentak.

“Sudahlah, Pa. latihan menari Flamenco tidak akan membuat kita kaya. Aku sudah memiliki penghasilan yang lebih baik untuk mendaftar ESO (Education Secundaria Obligatoria). Daripada Papa, capek-capek menjadi penenun jarapa!” ujarku seraya pergi meninggalkan Papa menuju kamar.

* * *

4

Mezquita-Catedral Cordoba

Aku duduk di tepi jalan sekitar Mezquita-Catedral Cordoba yang berdiri megah di tengah keramaian komplek. Kupandangi wisatawan yang lalu lalang di depanku. Matahari telah meninggi, tapi satu mangsapun belum kudapatkan.

Aku menatap bangunan tua bergaya Moorish yang sedari tadi berdiri angkuh dihadapanku. Bangunan dengan tembok membentang tinggi memagari seluruh area. Disekililingnya tampak gerbang-gerbang tinggi berarsitektur Islam dengan warna khas emas dan ukiran kaligrafi. Seakan memiliki daya magis, bangunan itu mampu menyeret langkah kakiku. Aku memasuki gerbang utama bangunan tersebut yang membawaku masuk ke Patio de los Naranjos, sebuah taman dengan pohon jeruk dan kolam air mancur di tengahnya. Dari yang aku dengar, dahulu kolam tersebut digunakan oleh umat Islam untuk mengambil wudhu.

Kupandangi bangunan dengan gaya arsitektur yang menyatukan unsur-unsur agama Islam dan Kristen. Riuh pengunjung tak mengalihkan pandanganku untuk mengagumi bangunan yang usianya berabad-abad tersebut. Paras surya yang membuncah rupanya tak mampu memudarkan kegagahan dan keanggunan bangunan yang telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia ini.

“Cahaya di dalam Mezquita-Catedral Cordoba yang cenderung tamaram semakin menimbulkan rasa syahdu, benar bukan? Pencahayaan bangunan diperoleh dari 4.700 lampu minyak yang tergantung di antara pilar-pilar. Pilar-pilar ini berdiri teratur menyangga lengkungan tapal kuda yang menjulang hingga langit-langit. Terbuat dari marmer dan granit, pilar ini berjumlah 856 kolom yang berbaris seakan menyerupai labirin. Batu bata diselipkan berselang-seling di tiap lengkungannya, menciptakan pola merah-putih bergaris-garis yang memberikan karakter tersendiri pada bangunan ini. Lengkungan itu dibuat bertumpuk supaya pilar tetap mampu menyangga langit-langit.” Kata sang pemandu.

“Mezquita-Catedral Cordoba dulunya sebuah katedral bernama Visigoth St. Vincent. Pertama kali diubah menjadi masjid tahun 784 M dibawah kepemimpinan Abd Ar Rahman I. Bangunan ini kembali berubah menjadi katedral pada masa penaklukan tentara Kristen pada abad ke-16.” Aku larut dalam penjelasannya mengenai sejarah dan budaya yang menyebar luas di bangunan ini.

Keindahannya membuatku lupa pada tujuanku datang ke bangunan berwarna emas ini. Mataku liar menyapu cekat pengunjung yang berlalu dihadapanku. Aku mendekati sosok wanita yang tampak seperti seorang turis mancanegara. Ratusan wisatawan yang sesak memenuhi bangunan ini membuat aksiku kian mudah kujalani. Kubalikkan badanku dengan dompet yang kusembunyikan di balik saku celana.

“Papa?” gumamku terkejut.

Lelaki tua itu berdiri tepat di depanku. Wajahnya memerah. Kepalan tangannya nampak jelas, menandakan amarahnya yang sedang bergejolak. Papa mendekatiku yang masih menata jantung. Papa menarik tanganku dengan paksa, menyeretku menjauhi kerumunan.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Papa. Tatapannya tajam ke arahku.

“Em.. em..”

Aku tak mampu menjawab pertanyaan Papa. Tubuhku kaku. Menggigil. Aku tak menyangka, Papalah yang memergoki aksiku. Tatapan Papa nanar. Pendar-pendar kemarahan tergambar jelas dari sorot matanya.

“Sekarang, kembalikan dompet itu dan minta maaf pada wanita tadi!” perintah Papa tegas. Aku pasrah, tak mampu berkelit. Mata tajam Papa yang menatapku membuatku ngeri dan harus mengembalikan dompet yang sukar kudapatkan. Aku segera mengembalikan dompet itu, mengatakan pada wanita tadi bahwa aku tak sengaja menemukan dompet yang terjatuh.

“Masuk ke mobil!” perintah Papa.

Deru suara mobil butut peninggalan kakekku berjalan dengan amat lamban. Beribu tanda tanya bersarang di otakku. Sepatah katapun tak terlontar dari bibir Papa. Pandangannya lurus ke depan. Aku menyimpan segudang tanya dalam pikirku. Melempar bisu dalam mobil bercat hijau pudar.

Papa mengajakku berkeliling Andalusia. Dimulai dengan Giralda Tower, sebuah menara lonceng gereja yang sebenarnya adalah minaret tempat muadzin memanggil shalat. Papa bercerita bahwa setelah penaklukan sevilla di tahun 1248, maka dilakukan perataan Masjid Sevilla untuk kemudian dibangun gereja bergaya gothic.

7

Giralda Tower

Belum puas dengan Giralda Tower, selanjutnya Papa mengajakku ke Real Alcazar de Seville, yang menyimpan sejarah, budaya, dan seni dalam satu harmoni. Dari cerita yang pernah aku dengar kata Alcazar sendiri berasal dari Bahasa Arab Al-Qasr yang artinya istana. Aku dan Papa masuk melalui gerbang Puerta del Leon (Gerbang Singa) yang membawaku ke Patio del Leon, sebuah halaman tempat garnisun (pasukan penjaga benteng) AL Muwarak. Aku dapat melihat ukiran indah khas Maroko di Sala de la Justicia (Hall of justice).

Di dalam komplek Alcazar terdapat banyak bangunan. Salah satunya adalah Palacio de Don Pedro. Sebuah prasasti di bagian depan istana yang menceritakan tentang aliansi Raja Pedro I dengan pemimpin kerajaan Islam di Granada, Muhammad V. Kata Papa, saat Raja Pedro hendak membangun istana baru di dalam Alcazar, Muhammad V mengirimkan seniman terbaiknya. Tampak percampuran arsitektur Islam dan Kristen Mujedar yang unik.

8

Real Alcazar de Seville

Tak berhenti sampai di Real Alcazar de Seville, Papa mengajakku ke The Royal Palace of Alhambra dan Generalife, komplek istana dan benteng yang terkenal dengan arsitektur Islam dan Kristen serta kebun yang indah, yang merupakan peninggalan era kejayaan Islam di abad ke 13.

9

The Royal Palace of Alhambra dan Generalife

Dengan semangat yang belum padam, perjalanan berlanjut ke Kota Medina Azahara. Merupakan kota yang memiliki sistem tata kota yang baik dan indah. Dibangun pada 939 oleh Khalifah Cordoba, Abdul Rahman III. Memasuki wilayah ini, aku melihat sisa-sisa reruntuhan dan puing-puing bangunan. Terdapat sisa bangunan utama yang menggambarkan kemegahan bangunan ini di masa lalu. Istana kota seluas 112 hektar ini, membuatku membayangkan, betapa besarnya kekuasaan Islam pada masa itu. Keindahan dan kemegahan di sini menggambarkan kejayaan Islam yang pernah ada.

10

Kota Medina Azahara

Tak terasa hari beranjak sore, aku semakin menyadari pengaruh Islam yang sangat besar terhadap Andalusia. Papa mengajakku kembali ke Jembatan Romawi Cordoba yang berada di sekitar Mezquita-Catedral Cordoba. Jembatan ini dibangun pada abad 1 oleh Romawi untuk menggantikan jembatan kayu yang telah ada sebelumnya. Jembatan ini telah mengalami banyak penambahan bangunan, terutama pada abad pertengahan, ketika ditambahkan Calahorra Tower dan Puerta del Puente.

11

Roman Bridge Cordoba

Di tengah senja, dengan pemandangan Mezquita-Catedral Cordoba dan foreground sungai, Papa merangkul pundakku sembari bercerita.

“Abdul, kau tahu, mengapa namamu Abdul Rahman?” tanya Papa seraya memalingkan wajahnya ke arahku. Aku masih membisu, kubiarkan Papa asyik dengan ceritanya.

“Nama Abdul Rahman terinspirasi dari khalifah Cordoba yang berhasil mensukseskan bidang perdagangan dan kebudayaan, didirikannya banyak mahakarya bergaya Islami di Andalusia dipelopori olehnya. Puncak kejayaan Cordoba berlangsung di era pemerintahan Khalifah Abdul Rahman An-Nashir dan anaknya. Ketika itu, Cordoba mencapai puncak kejayaan hingga taraf kemakmuran yang belum pernah tercapai sebelumnya. Pembangunan pada masa itu tumbuh pesat. Bangunan-bangunan berarsitektur megah bermunculan. Pada abad IX dan X Masehi, terdapat lebih dari 200.000 rumah di dalam kota, 600 buah masjid, 900 public baths, 50 rumah sakit dan sejumlah pasar besar yang menjadi pusat dagang dan sentra ekonomi. Jejak kejayaan Islam di Cordoba tidak hanya meninggalkan bangunan-bangunan megah, namun mewariskan peradaban dan ilmu pengetahuan yang tak ternilai.”

12

Abdul Rahman I

“Tapi aku bukan seorang khalifah! Aku bukan Abdul Rahman kebanggaan Papa!” ketusku.

“Papa tahu, kamu tak harus menjadi khalifah. Tapi kamu bisa menyontoh Abdul Rahman,” ujar Papa.

“Ya, aku memang bisa menyontoh Abdul Rahman. Tapi tidak setelah Mama meninggal. Semua itu karena Papa! Papa yang telah menyebabkan Mama terperangkap dalam kobaran api. Saat itu, kemana saja Papa?” emosiku mulai beranjak. Teringat kejadian satu tahun lalu. Aku hanya melihat jasad Mama yang tergulai kaku setelah pulang sekolah. Asap-asap mengepul.

Bulir-bulir tetesan air mata membasahi wajah letih Papa. Sesekali ia menyeka air matanya yang terlanjur merintik. Entah karena menyesal atau sedih melihatku. Aku tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.

“Papa tahu, kamu selalu menyalahkan Papa atas kejadian itu,”

“Ya. Karena Papa memang salah. Harusnya Papa bisa menolong Mama. Bukankah Papa selalu menenun di rumah bersama Mama?” aku memotong kata-kata Papa.

“Saat itu… Papa sedang sholat.” ujar Papa merintih. Papa diam sejenak mengatur nafas untuk menahan perih di hati.

“Papa juga tidak menyangka akan seperti itu. Sebelum Papa pergi ke Masjid, Mama masih baik-baik saja. Bahkan, Mama sempat mengajak Papa bercanda. Papa juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi kita harus menerima kenyataan. Kita harus yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita. Allah punya rencana sendiri untuk kita, Abdul.” ujar Papa

Aku tercekat. Selama ini memang aku sering menyalahkan Papa, “Kenapa Papa tidak cerita kalau Papa sedang sholat?”

Papa menghela nafas panjang, “Karena Papa tidak ingin melihatmu sedih. Setiap kali Papa menyinggung tentang Mama, wajahmu langsung berubah. Papa tidak tega.”

Aku semakin tertunduk. Ternyata lelaki berahang keras di sampingku sangat menyayangiku.

“Mamamu sangat mengagumi Abdul Rahman,” Papa mengusap kristal-kristal bening yang mengalir dari bola matanya.

Papa melanjutkan perkataannya, “Mama ingin melihatmu seperti tokoh kebanggaannya, maka ia memberimu nama Abdul Rahman.”

Aku menatap Papa tak berkedip, “Jadi…”

“Ya Nak, namamu adalah pemberian Mamamu. Abdul Rahman seorang khalifah. Khalifah tak sepatutnya melakukan hal-hal yang buruk. Jika Mama masih hidup, pasti Mama akan sedih melihatmu mencuri. Kamu harus seperti Abdul Rahman, dengan keuletanmu pasti kamu bisa mengubah kehidupan kita Nak,” cerita Papa panjang lebar.

Rengkuhan hangat menyapa relung hatiku. Aku seakan mendapat tamparan lembut tentang semua kebodohanku. Jembatan Romawi menjadi saksi penyesalanku, membuatku tersadar akan hakekat hidup ini.

Langit telah beranjak gelap. Papa mengajakku pulang ke rumah. Di perjalanan, aku menyusun tekad untuk memenuhi keinginan Mama. Meyakinkan Mama dan Papa bahwa akulah Abdul Rahman kebanggan mereka. Abdul Rahman yang ulet, sukses dan cerdas.

* * *

13

Caballerizas Reales

Sang surya telah jauh melayang di hamparan langit Andalusia. Panas yang membakar tak menyurutkan semangat para pengunjung. Pancaran sinarnya membuat pesona siang kian ramah. Riuh pengunjung memadati Caballerizas Reales, untuk menyaksikan pertunjukkan kuda yang dalam beberapa atraksinya dipadukan dengan musik dan Tari Flamenco.

Aku mulai menggerak-gerakkan tubuhku mengikuti irama. Tarian Flamenco yang telah lama kutekuni bersama Alejandro dan penari lain membuatku lebih percaya diri. Aku dan penari lain berhasil menggertak pertunjukan kuda ini menjadi makin meriah. Menari lihai dengan improvisasi dan gerakan penuh semangat untuk menciptakan pertunjukkan yang enerjik dan menarik. Hentakan kaki dan tepukan tangan yang ritmik menjadi ciri khas dari tarian ini.

14

Aku semakin larut dalam tarian Flamenco. Deretan manusia yang membanjiri pertunjukkan semakin membuatku bersemangat mempertontonkan kelihaianku dalam menari Flamenco.

Aku lebih memilih menjadi penari Flamenco. Mengurung nafsuku untuk tidak mencuri lagi. Meskipun hasilnya tidak seberapa, tapi aku dapat melestarikan budayaku. Mungkin dengan kondisi keluargaku yang seperti ini, aku harus lebih ulet dalam belajar agar mendapat beasiswa, serta untuk meraih impian terbesarku saat ini, yaitu berkeliling dunia untuk menarikan Tarian Flamenco di atas panggung besar yang megah. [*]

Malang, 2018.

 

Semoga cerita ini mampu memberikan gambaran wisata muslim di Andalusia sekaligus memberikan pembelajaran moral untuk selalu melestarikan dan mencintai budaya bangsa,  optimis dan ulet dalam menghadapi kehidupan 😀

“Selama kita masih punya tekad yang terpelihara dalam semangat, maka tiada kata terlambat untuk memulai sebuah awal yang baru”.

Untuk paket tour muslim berpengalaman, terpercaya, dengan harga terbaik dan kepastian keberangkatan, jangan ragu untuk kunjungi https://adindaazzahra.com

Sumber

Review Jurnal Sudarmo

 

Perspectives on Governance Towards an Organizing Framework for Colaboration and Collective Actions

Perspektif Kepemerintahan: Menuju Kerangka Kerja Pengorganisasian Untuk Kolaborasi dan Aksi Bersama

BAB I

 PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Istilah ‘governance‘ secara tradisional digunakan sebagai sinonim untuk ‘government‘. Dalam teori politik Anglo-Amerika, ‘government‘ mengacu pada institusi formal negara dan monopoli kekuatan yang sah ditandai oleh kemampuannya untuk membuat keputusan dan kapasitasnya untuk menegakkannya. Istilah ‘government‘ biasanya dipahami sebagai proses formal dan institusional yang bekerja di tingkat negara untuk menjaga ketertiban umum dan memungkinkan tindakan kolektif (Stoker, 1998).

Namun, istilah ‘governance‘ sama sekali tidak sama dengan istilah ‘government‘ karena lebih mengacu pada “proses pemerintahan baru; dimana peraturan telah diubah; dan metode baru di mana masyarakat diperintah “(Rhodes, 1996). Terlepas dari perbedaan mereka, output governance tidak berbeda dengan government; tata kelola governance menciptakan kondisi untuk peraturan dan tindakan kolektif (Stoker, 1998).

Tinjauan literatur pada umumnya menunjukkan bahwa governance diterapkan dengan berbagai cara dan memiliki berbagai makna (Rhodes, 1996; Stoker, 1998; Pierre and Peters, 2000).

Maka dalam papper ini akan dibahas perspektif berbeda mengenai pemerintahan itu, meliputi: pemerintahan sebagai struktur atau institusi pemerintah; pemerintahan sebagai pasar; pemerintahan sebagai “jaringan”; pemerintahan sebagai masyarakat; dan pendekatan tata kelola sebagai kontinum negara-masyarakat.

  1. Rumusan Masalah
    • Apa yang dimaksud dengan perspektif governance?
    • Apa macam dari perspektif governance
  1. Tujuan
    • Mengidentifikasi dan mendeskripsikan yang dimaksud dengan perspektif governance
    • Mengidentifikasi dan mendeskripsikan macam dari perspektif governance
  1. Manfaat
  • Bagi mahasiswa dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk mendalami mata kuliah Teori Governance
  • Bagi pembaca dapat memberikan informasi mengenai Governance

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Pengertian Perspektif
  • Joel M. Charon

Perspektif adalah kerangka konseptual, perangkat asumsi, perangkat nilai, dan perangkat gagasan yang mempengaruhi persepsi seseorang sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi tindakan seseorang dalam situasi tertentu.

  • Ardianto dan Q-Anees : 2007

Perspektif adalah cara pandang atau sudut pandang kita terhadap sesuatu.

  • Martomo : 2010

Perspektif adalah suatu cara pandang terhadap suatu masalah yang terjadi, atau sudut pandang tertentu yang digunakan dalam melihat suatu fenomena.

  • Dapat disimpulkan bahwa perspektif adalah cara pandang dalam memahami berbagai gejala yang terjadi berdasarkan keyakinan orang yang mempelajari objek tersebut.

 

  1. Governance

            Kata governance kini menjadi satu idiom yang dipakai secara luas, sehingga dapat dikatakan juga menjadi suatu konsep dari sejumlah terminologi dalam kebijakan dan politik. Kata governance seringkali digunakan untuk menjelaskan: jaringan kebijakan (policy networks, Rhodes: 1997), manajemen publik (public management, Hood: 1990), koordinasi antar sektor ekonomi (Cambell el al, 1991), kemitraan publik-privat (Pierre, 1998), corporate governance (Williamson, 1996), dan good governance.

            Sementara itu, dalam konteks reposisi administrasi publik, Frederickson memberikan interpretasi governance dalam empat terminologi, yaitu:

Pertama, Governance menggambarkan bersatunya sejumlah organisasi atau institusi, baik dari pemerintah atau swasta yang dipertautkan (linked together) secara bersama untuk mengurusi kegiatan-kegiatan publik. Mereka dapat bekerja secara bersama-sama dalam sebuah jejaring antar negara. Oleh karena itu, terminologi pertama ini, governance menunjuk networking dari sejumlah himpunan-himpunan entitas yang secara mandiri mempunyai kekuasaan otonom. Atau dalam ungkapan Frederickson adalah perubahan citra sentralisasi organisasi menuju citra organisasi yang delegatif dan terdesentralisir. Mereka bertemu untuk malakukan perembugan, merekonsiliasi kepentingan sehingga dapat dicapai tujuan secara kolektif atau bersama-sama. Kata kunci terminologi pertama ini adalah networking, desentralisasi.

Kedua, Governance sebagai tempat berhimpunnya berbagai pluralitas pelaku, bahkan disebut sebagai hiper pluralitas – untuk membangun sebuah konser antar pihak-pihak yang berkaitan secara langsung atau tidak (stake holders) dapat berupa: partai politik, badan-badan legislatif dan divisinya, kelompok kepentingan, untuk menyusun pilihan-pilihan kebijakan seraya mengimplementasikan. Hal penting dalam konteks ini adalah mulai hilangnya fungsi kontrol antar organisasi menjadi, menyebarnya berbagai pusat kekuasaan pada berbagai pluralitas pelaku, dan makin berdayanya pusat-pusat pengambilan keputusan yang makin madiri.

Dengan demikian terminologi kedua ini menekankan, governance dalam konteks pluralisme aktor dalam proses perumusan kebijakan dan implementasi kebijakan. Beberapa pertanyaan kunci yang penting: seberapa jauh kebijakan yang dilakukan pemerintah merespon tuntutan masyarakat, seberapa jauh masyarakat dilibatkan dalam proses tersebut, seberapa jauh masyarakat dilibatkan dalam proses implementasi, seberapa besar inisiatif dan kreativitas masyarakat tersalurkan, seberapa jauh masyarakat dapat mengakses informasi menyangkut pelaksanaan kebijakan tersebut, seberapa jauh hasil kebijakan tersebut memuaskan dan dapat dipertanggungjawabkan. Kata kunci dalam terminologi kedua ini adalah pluralitas aktor, kekuasaan yang makin menyebar, perumusan dan implementasi kebijakan bersama.

Ketiga, Governance berpautan dengan kecenderungan kekinian dalam literatur-literatur manajemen publik, terutama spesialisasi dalam rumpun kebijakan publik, dimana relasi multi organisasional antar aktor-aktor kunci terlibat dalam implementasi kebijakan. Kerjasama para aktor yang lebih berwatak politik, kebersamaan untuk memungut resiko, lebih kreatif dan berdaya, tidak mencerminkan watak yang kaku, terutama menyangkut: organisasi, hirarki, tata aturan. Dalam makna lebih luas, governance merupakan jaringan (network) kinerja diantara organisasi-organisasi lintas vertikal dan horizontal untuk mencapai tujuan-tujuan publik. Kata kuncinya jaringan aktor lintas organisasi secara vertikal dan horizontal.

Keempat, terminologi Governance dalam konteks administrasi publik kental dengan sistem nilai-nilai kepublikanGovernance emenyiratkan sesuatu hal yang sangat penting. Governance menyiratkan sesuatu keabsahan. Governance menyiratkan sesuatu yang lebih bermartabat, sesuatu yang positif untuk mencapai tujuan publik. Sementara terminologi pemerintah (government) dan birokrasi direndahkan, disepelekan mencerminkan sesuatu yang lamban dan kurang kreatif. Governance dipandang sebagai sesuatu yang akseptabel, lebih absah, lebih kreatif, lebih responsif dan bahkan lebih baik segalanya.

Dari keempat terminologi tersebut dapat ditarik pokok pikiran bahwa governance dalam konteks administrasi publik adalah proses perumusan dan implementasi untuk mencapai tujuan-tujuan publik yang dilakukan oleh aktor: pluralitas organisasi, dengan sifat hubungan yang lebih luwes dalam tataran vertikal dan horizontal, disemangati oleh nilai-nilai kepublikan, antara lain keabsahan, responsif, dan kreatif, serta dilakukan dalam semangat kesetaraan dan netwoking yang kuat untuk mencapai tujuan publik yang akuntabel.

Berdasarkan pemikiran ini, governance adalah merupakan sebuah ekspansi notion dari makna administrasi publik yang semula hanya diartikan sebagai hubungan struktural antara aktor-aktor yang ada dalam mainstream negara. Secara tegas Milward dan O’Toole memberikan interpretasi governance dalam dua aras penting : Pertamagovernance sebagai studi tentang konteks struktural dari organisasi atau institusi pada berbagai level (multi layered structural contex). Keduagovernance adalah studi tentang network yang menekankan pada peran beragam aktor sosial dalam sebuah jejaring negosiasi, implementasi, dan pembagian hasil. Merupakan konser sosial  melibatkan pelaku-pelaku untuk mengakselerasikan kepentingan publik secara lebih adil dan menebarnya peran lebih merata sesuai dengan realitas pluralitas kepentingan dan aktor yang ada.

Sementara itu dari perspektif strukturalis sebagaimana argumentasi Lynn, Heinrich dan Hill yang dikutip oleh Frederickson elemen penting notion governance meliputi aras teori kelembagaan (institutionalism) dan teori jaringan (network theory)

Pertamagovernance berkaitan dengan suatu level kelembagaan (institutional level). Matra ini meliputi sistem nilai,  peraturan-peraturan formal atau informal dengan tingkat pelembagaan yang mantap : bagaimana hirarki ditata, sejauhmana batas-batasnya disepakati, bagaimana prosedurnya, apa nilai-nilai kolektif yang dianut rejim. Yang termasuk dalam konsepsi ini antara lain :  hukum administrasi, dan bentuk peraturan legal lainnya, teori-teori yang berkaitan dengan bekerjanya birokrasi dalam skala luas, teori politik ekonomi, teori kontrol politik terhadap birokrasi. Pada gatra ini terdapat sejumlah teori yang sangat penting : teori kelembagaan (institutional theory), teori perburuan rente (rent seeking), teori  kontrol dari birokrasi, dan dan teori tujuan dan filosofi pemerintah. Pada bagian ini teori governance difokuskan pada tataran-tataran sistem nilai (value).

Kedua, pada level organisasi dan managerial governance akan berpautan dengan biro-biro hirarki, departemen, komisi dan agen-agen pemerintah  atau juga organisasi-organisasi yang menjalin hubungan kerja dengan pemerintah . Pada tataran ini agenda-agenda : kebebasan dan mandirian administratif, takaran-takaran unjuk kerja dalam proses pelayanan publik, menjadi isu yang penting. Tori-teori yang signifikan untuk menjelaskan fenomena ini antara lain : principal-agent theory, transaction cos analysis theory, collective action theory, network theory. Intinya, pada terminologi kedua ini governance diproyeksikan pada peran mengakselerasikan kepentingan-kepentingan publik (public interest) dalam suatu network antar institusi.

Ketiga, pada level teknis, bagaimana nilai-nilai dan kepentingan publik sebagaimana telah dikemukakan pada pendekatan pertama dan kedua harus dioperasionalisasikan dalam tindakan-tindakan riil. Isu-isu tentang profesionalisme, standar kompetensi teknis, akuntabilitas, dan kinerja (performance) sangat penting dalam konteks ini. Teori-teori yang relevan untuk tema ini antara lain : ukuran-ukuran efesiensi, teknis manajemen budaya organisasi, kepemimpinan, mekanisme akuntabilitas,  dan ukuran. Dengan demikian pada level ini governance lebih banyak berurusan dengan implementasi kebijakan publik pada level operasional (public policy at the street level).

 

BAB III

PEMBAHASAN

Tinjauan literatur pada umumnya menunjukkan bahwa governance diterapkan dengan berbagai cara dan memiliki berbagai makna (Rhodes, 1996; Stoker, 1998; Pierre and Peters, 2000).

Maka ada perspektif yang berbeda mengenai pemerintahan itu, meliputi: pemerintahan sebagai struktur atau institusi pemerintah; pemerintahan sebagai pasar; pemerintahan sebagai “jaringan”; pemerintahan sebagai masyarakat; dan pendekatan tata kelola sebagai kontinum negara-masyarakat.

  1. Pemerintah sebagai Struktur atau Institusi Pemerintah

Persepektif pertama memandang pemerintahan sebagai struktur atau institusi pemerintah (Pierre & Peters, 2000; Stoker 1998). Ini mengacu pada pejabat pemerintahan yang terpilih dan pegawai negeri yang membentuk institusi pemerintahan; sehingga hanya mengacu pada institusi atau struktur formal.

Karena fungsi dari pejabat pemerintah adalah mengatur urusan publik, maka pejabat pemerintah diyakini memiliki kemampuan dan kebijaksanaan vital untuk mengelola dan mempengaruhi segala bentuk masalah publik.

Pemerintah “masih menjadi pusat kekuatan politik yang cukup besar” dan “memainkan peran utama, membuat prioritas, dan menentukan tujuan” (Pierre and Peters, 2000).

Governance melalui hirarki adalah governance yang didasarkan oleh hukum. Dalam hal ini, negara dapat dengan jelas dipisahkan dari masyarakat, sedangkan masyarakat diatur oleh hukum dan peraturan.

Peran negara adalah proses yang dinamis, karena terkait langsung dengan tradisi sosial, perubahan ekonomi dan inovasi teknologi.

Hal tersebut di atas sangatlah berbeda dengan liberalisme demokratis, kebebasan pers, pemilu yang bebas dan adil, dan sistem ekonomi pasar bebas. Namun, pada abad 21 saat ini peran politik negara telah didominasi oleh demokratisasi, pemilihan yang bebas dan adil, pemerintahan yang baik dan perlindungan hak asasi manusia. Jadi peran universal negara pada kemunculan abad ke-21 dapat diringkas sebagai berikut (Al Iryani, 2006):

(1) mendorong hukum dan peraturan individu serta keamanan kolektif warganya;

(2) Mempertahankan peradilan yang independen;

(3) Mengadopsi kebijakan ekonomi yang stabil, membebaskan ekonomi dari distorsi dan memberantas korupsi;

(4) Meningkatkan demokrasi atau demokratisasi dan partisipasi rakyat dalam pemilihan yang bebas dan adil;

(5) Penggunaan kekayaan nasional secara bijaksana dengan perhatian khusus pada kelompok-kelompok yang kurang beruntung di masyarakat;

(6) Mengarahkan sumber daya negara ke investasi dalam layanan sosial (kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan) dan proyek infrastruktur;

(7) perlindungan lingkungan;

(8) Perlindungan hak asasi manusia “

  1. Pemerintah Sebagai Pasar

Perspektif kedua adalah pemerintahan sebagai pasar (Pierre & Peters, 2000). Pada dasarnya, pendekatan ini menekankan pada pendelegasian fungsi pemerintah kepada pihak swasta, melakukan impor dengan pendekatan pengelolaan dan mekanisme pengelolaan pasar-gaya (Donahue, 2002).

Secara tradisional, pendekatan ini berkaitan dengan permintaan dan penawaran. Di sisi permintaan, “berkaitan dengan interaksi antara pemerintah dan pasar, dimana sektor publik sebagai pelanggan”. Sedangkan di sisi penawaran, berkaitan dengan “peran pemerintah sebagai penyedia (bukan pembeli) dalam sistem pasar” (Donahue, 2002). Denhardt dan Denhardt menyebut pendekatan ini sebagai manajemen publik yang baru, di mana publik sebagai pasar yang terdiri dari pelanggan yang  memenuhi kepentingan pribadi mereka. Dengan cara ini, agen publik tidak bertanggung jawab kepada warga negara atau masyarakat umum namun bertanggung jawab kepada “pelanggan”. Tanggung jawab pemerintah adalah menawarkan pilihan kebutuhan kepada pelanggan dan menanggapi kepentingan individu dengan memberikan layanan dan menjalankan fungsi (Denhardt & Denhardt, 2002).

Pendekatan pemerintah sebagai pasar dipandang sebagai solusi paling efisien dan adil karena dalam mengalokasikan sumber dayanya, pendekatan ini bebas dari hal-hal politik (Pierre & Peters, 2000). Namun, Pierre dan Peters (2000) juga mencatat bahwa pendekatan ini “sangat tidak jelas “.

  1. Pemerintah sebagai Jaringan

Perspektif ketiga adalah pemerintahan sebagai “jaringan”. Jaringan yang mewakili ‘beragam aktor termasuk institusi negara, pengorganisir minat dan berbagai aktor lainnya yang bekerja di sektor kebijakan tertentu ‘(Pierre & Peters, 2000). Pemerintah biasanya muncul saat aktor yang terlibat “saling bergantung”, khususnya, “bila tidak ada aktor yang dapat mengatasi masalah itu sendiri. (Steets, 2003).

Jaringan kebijakan dengan ‘mengkoordinasi kepentingan publik, pribadi dan sumber daya, dapat meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan kebijakan publik’ (Pierre & Peters, 2000). Steets (2002) mencatat keuntungan dari jaringan dapat memberikan kontribusi terhadap “perbaikan governance” karena jaringan dapat menciptakan solusi konstruktif; Keputusan yang dicapai oleh jaringan yang dikelola dengan baik dapat dengan mudah diterapkan; jaringan memiliki kemampuan untuk menghubungkan global ke tingkat lokal; jaringan memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengembangan kapasitas’.

Tapi ada juga sisi negative dari jaringan, dalam pemerintahan, jaringan bisa menjadi ketat dan terorganisir untuk menentang atau menghadapi kekuatan negara. Akibatnya, kebijakan publik menjadi lebih dipengaruhi oleh kepentingan aktor tertentu daripada kepentingan umum;

  1. Pemerintahan sebagai Masyarakat

Perspektif lainnya adalah pemerintah sebagai masyarakat. Istilah ini kadang-kadang digunakan oleh beberapa ilmuwan sebagai “modal sosial” yang mengacu pada “kepercayaan, perhatian untuk rekan-rekan, kemauan untuk hidup sesuai dengan norma masyarakat, dan menghukum mereka yang melanggar norma”. Meskipun beberapa lebih memilih menggunakan istilah “komunitas” atau “modal sosial”. Komunitas didefinisikan sebagai “sekelompok orang yang berinteraksi secara langsung, sering dan dalam banyak cara”, dimana anggota yang bekerja sama biasanya adalah masyarakat, lingkungan, kelompok teman, jaringan profesional dan bisnis, geng, dan liga olahraga; definisi ini mewakili “hubungan”, bukan “kasih sayang” (Bowles & Gintis, 2000)

Governance oleh masyarakat diyakini dapat “mengatasi masalah tertentu yang tidak dapat ditangani dengan baik oleh individu yang bertindak sendiri atau oleh pasar dan pemerintah”. Masyarakat dapat memecahkan masalah yang muncul dari kegagalan pasar klasik berupa “kurangnya penyediaan barang publik seperti fasilitas lingkungan, tidak adanya asuransi, keuntungan untuk kepentingan pihak tertentu, mengesampingkan orang miskin dari pasar kredit, dan pemantauan kerja yang tidak efektif dan efisien “.

Local Initiative Facility for Urban Environment atau LIFE (1997) yang berfokus pada pendekatan masyarakat sipil berpendapat bahwa “governance mengacu pada proses dimana masyarakat mengelola sumber daya, ekonomi, dan politik ekonomi, sosial dan politiknya – tidak hanya untuk pembangunan, tetapi juga untuk kohesi, integrasi dan kesejahteraan rakyatnya Definisi ini cenderung mengadopsi perspektif masyarakat atau pendekatan masyarakat sipil yang melihat tata kelola dari wilayah masyarakat (lihat Rhodes, 1997; Pierre and Peters, 2000).

Perspektif komunitarian berpendapat bahwa pemerintah menciptakan banyak masalah; Dengan demikian, solusi komunitarian untuk masalah ini adalah mengatur pemerintahan tanpa pemerintahan.

Meskipun model pemerintah sebagai masyarakat berguna, namun model ini tidak bisa menjadi model terbaik untuk pemerintahan di negara yang kurang berkembang karena masyarakat di negara berkembang tidak memiliki cukup kapasitas mengenai pemerintahan. Pemerintahan komunitarian, khususnya tata pemerintahan yang demokratis lebih bergantung pada pengembangan masyarakat sipil daripada tindakan pemerintah (Putnam, 1993).

  1. Pendekatan Governance sebagai Kontinum Negara-Masyarakat

Pembahasan tentang perspektif governance di atas telah mengarah pada perspektif bahwa pada dasarnya governance adalah rangkaian antara negara dan masyarakat. Davis dan Keating (2000) mendefinisikan tata kelola sebagai “proses di mana institusi, baik negara maupun non-negara berinteraksi untuk mengelola urusan suatu negara”. Istilah non-negara dapat mencakup komunitas atau masyarakat, organisasi swasta dan non pemerintah (Turner dan Hulme, 1997). Hyden, Court dan Mease (2004) menggarisbawahi bahwa governance meliputi aktivitas dan proses cerminan niat dan agensi manusia yang menentukan parameter bagaimana kebijakan dibuat dan diterapkan; governance didefinisikan sebagai “pembentukan dan pengelolaan peraturan formal dan informal yang mengatur ranah publik, arena di mana aktor negara, aktor sosial dan ekonomi berinteraksi untuk mengambil keputusan”. Definisi ini menekankan pada proses interaksi antara negara dan non negara (civil society) dalam mengambil keputusan melalui peraturan formal dan informal yang menyiratkan kebijaksanaan dalam menerapkan rule of law.

Interaksi yang mereka buat dalam pemerintahan dapat dilakukan dalam hal kerjasama, koordinasi,  negosiasi dan dialog (Kooiman, 1993a; Pierre and Peters, 2000; LIFE, 1997; Gamble, 2000), Peraturan, struktur dan prosedur memberi kekuatan para pemangku kepentingan untuk mempengaruhi keputusan mengenai kesejahteraan mereka (Bovaird, 2002).

Dalam pemerintahan, ‘pemerintah hanyalah salah satu aktor di dalamnya; dan masih ada aktor lain yang terlibat dalam pemerintahan tergantung pada tingkat pemerintahan yang sedang dibahas’. (Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik, 2006).

Dengan demikian, istilah governance lebih luas daripada struktur dan institusi pemerintah dan organisasi publik (Frederickson, 1997; Denhardt dan Denhardt, 2003), perumusan kebijakan tidak lagi dilakukan secara dominan oleh pemerintah ‘(Denhardt dan Denhardt, 2003).

Pemerintahan juga dapat mencakup kapasitas organisasi dan akuntabilitas (OECD, 2006; Bank Dunia, 2001; Denhardt dan Denhardt, 2003), dan ‘kemitraan antara aktor publik dan swasta, serta publik dan non-publik di tingkat lokal’ (Pierre & Peters, 2000).

Dengan demikian, ada perubahan kekuasaan dan legitimasi di mana pemerintah bukan satu-satunya pemangku kepentingan pusat yang memiliki kekuatan dan legitimasi untuk mengambil keputusan.

Pemangku kepentingan dapat didefinisikan sebagai “individu atau kelompok yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi” (Brinkerhoff dan Crosby, 2002);.

Implikasi dari governance adalah bahwa proses merumuskan dan menerapkan kebijakan tidak didominasi oleh negara (pemerintah) saja, tetapi juga melibatkan pemangku kepentingan lainnya (seperti aktor non-pemerintah termasuk organisasi swasta dan non-bisnis).

BAB IV

 KESIMPULAN

Tinjauan literatur pada umumnya menunjukkan bahwa governance diterapkan dengan berbagai cara dan memiliki berbagai makna (Rhodes, 1996; Stoker, 1998; Pierre and Peters, 2000).

Maka ada perspektif yang berbeda mengenai pemerintahan itu, meliputi: pemerintahan sebagai struktur atau institusi pemerintah; pemerintahan sebagai pasar; pemerintahan sebagai “jaringan”; pemerintahan sebagai masyarakat; dan pendekatan tata kelola sebagai kontinum negara-masyarakat.

Persepektif pertama memandang pemerintahan sebagai struktur atau institusi pemerintah (Pierre & Peters, 2000; Stoker 1998). Ini mengacu pada pejabat pemerintahan yang terpilih dan pegawai negeri yang membentuk institusi pemerintahan; sehingga hanya mengacu pada institusi atau struktur formal.

Perspektif kedua adalah pemerintahan sebagai pasar (Pierre & Peters, 2000). Pada dasarnya, pendekatan ini menekankan pada pendelegasian fungsi pemerintah kepada pihak swasta, melakukan impor dengan pendekatan pengelolaan dan mekanisme pengelolaan pasar-gaya (Donahue, 2002).

Perspektif ketiga adalah pemerintahan sebagai “jaringan”. Jaringan yang mewakili ‘beragam aktor termasuk institusi negara, pengorganisirminat dan berbagai aktor lainnya yang bekerja di sektor kebijakan tertentu ‘(Pierre & Peters, 2000). Pemerintah biasanya muncul saat aktor yang terlibat “saling bergantung”, khususnya, “bila tidak ada aktor yang dapat mengatasi masalah itu sendiri. (Steets, 2003).

Perspektif lainnya adalah pemerintah sebagai masyarakat. Istilah ini kadang-kadang digunakan oleh beberapa ilmuwan sebagai “modal sosial” yang mengacu pada “kepercayaan, perhatian untuk rekan-rekan, kemauan untuk hidup sesuai dengan norma masyarakat, dan menghukum mereka yang melanggar norma”.

Pembahasan tentang perspektif governance di atas telah mengarah pada perspektif bahwa pada dasarnya governance adalah rangkaian antara negara dan masyarakat. Davis dan Keating (2000) mendefinisikan tata kelola sebagai “proses di manainstitusi, baik negara maupun non-negara berinteraksi untuk mengelola urusan suatu negara”.

BAB V 

DAFTAR PUSTAKA

 

Majid, Amirullah. (2011). http://azimahmajid.blogspot.co.id/2011/02/teori-governance-dan-perkembangannya.html. Diakses pada 9 September 2017

Sudarmo. (2006). Perspective On Governance Towards an Organizing Framework. file:///D:/Semester%203/Teori%20Governance/sp2_2_sudarmo.pdf. Diakses pada 8 September 2017

KAI Masa Mendatang

KAI Masa Mendatang

Oleh: Putri Benida Ayuningsih

 

Kereta api telah menjadi salah satu alat transportasi yang semakin memasyarakat di Indonesia. Oleh sebab itu, angkutan ini perlu menyediakan berbagai fasilitas-fasilitas kenyamanan yang diperuntukkan bagi penumpangnya.

Saat ini dunia perkeretaapian Indonesia sedang mengalami peningkatan yang pesat. Ibarat panen raya, Kereta Api Indonesia sedang sibuk memetik buah hasil jerih payah merevitalisasi infrastruktur kereta api dalam beberapa tahun terakhir. Bermula dari berbagai permasalahan yang pelik, kini kereta api sudah memiliki wajah baru yang amat berbeda. Sebelumnya, muncul berbagai masalah seputar kereta api meliputi Stasiun Kereta Api yang kumuh dan rawan kejahatan, armada kereta api yang memprihatinkan, maraknya calo tiket kereta, dan masih banyak lagi.

9 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2008, bahkan PT. KAI tercatat merugi hingga 85 miliar. Akan tetapi setelah dilakukan perombakan besar-besaran, KAI mampu bertransformasi dengan membuang wajah buruk pelayanannya. Dilakukan perbaikan perangkat dan fasilitas serta modernisasi di dalam KAI, berbagai lini operasi dilengkapi dengan teknologi informasi. Dilakukan perubahan pada karakter manusianya, dengan menekankan integritas, kerja keras dan mentalitas pelayanan.

Setelah 9 tahun KAI mampu bertransformasi dengan begitu pesatnya hingga seperti sekarang, maka 9 tahun ke depan, KAI diharapkan mampu bertranformasi lebih baik dengan meningkatkan inovasinya untuk mengurai benang kusut perkeretaapian Indonesia.

Melalui perbaikan dan pembaharuan, PT. KAI diharapkan mampu memproduksi kereta api berkecepatan tinggi dengan menawarkan perjalanan publik yang nyaman dan terjangkau. Masyarakat dapat menghemat waktu walau jarak yang ditempuh cukup jauh. Hal ini dapat menjadi daya tarik masyarakat menggunakan kendaraan umum berupa kereta api daripada kendaraan pribadi, dan menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan. Selain itu, kereta api berkecepatan tinggi ini dapat menggunakan prinsip kerja dari Magnetic Levitation, yang bisa berjalan mengambang di atas rel kereta bermagnet menggunakan prinsip kerja magnet, tanpa bahan bakar. Hal ini juga dapat menjadi solusi untuk menghemat bahan bakar, karena Magnetic Levitation ini menggunakan magnetic rel.

Rel adalah komponen penting dalam beroperasinya sebuah kereta. Indonesia masih melakukan impor rel kereta api, dikarenakan belum adanya kalangan usaha dari Indonesia yang menggarap industri ini, para pelaku usaha tersebut perlu diberi kepastian perihal keberlangsungan pembangunan kereta di tanah air, dari pihak KAI perlu ada keseriusan dengan mengkoordinasi pihak pengusaha dan pemerintah, termasuk bila Indonesia ingin menerapkan sistem Magnetic Levitation, maka rel bermagnet perlu dipersiapkan segera.

Mengenai letak geografi Indonesia di masa mendatang, Benua Australia telah bergeser sebanyak 1,5 meter ke Utara selama beberapa tahun terakhir. Lempeng kontinental tercepat di muka bumi ini bergerak sekitar 5-7 cm per tahunnya. Pergerakan ini memungkinkan terjadinya gempa tektonik di Indonesia. Mewaspadai hal tersebut, kereta api di Indonesia perlu dilengkapi dengan sistem pendeteksian yang akan berhenti bila gempa bumi terdeteksi, sehingga dapat mengurangi jumlah korban yang melayang.

Selain insfastruktur dan fasilitas kereta api, pelayanan terhadap masyarakat pun perlu ditingkatkan. Berbicara mengenai masyarakat umum, kita tidak boleh melupakan masyarakat disabilitas. Penyandang disabilitas sebagaimana dengan orang lainnya memiliki hak yang sama, yaitu hak di bidang Ekonomi, Sosial, Budaya. Negara mempunyai kewajiban untuk memenuhi, menghomati, dan melindungi setiap hak yang dimiliki oleh setiap warga negaranya, termasuk hak untuk memperoleh aksesbilitas tanpa diskriminasi. Seharusnya tidak ada sekat sosial yang membedakan masyarakat disabilitas dengan masyarakat umum.

Sekat sosial tersebut masih lekat terasa dalam hal kemudahan memperoleh aksesbilitas bagi penyandang disabilitas. Dalam mencapai kemudahan, kemandirian, dan kesejahteraan aksesbilitas bagi penyandang disabilitas yang memadai, terpadu, dan berkesinambungan, perlu adanya tindak lanjut dari pihak KAI.

Fasilitas umum perlu didesain sangat ramah sehingga penyandang disabilitas dapat memanfaatkannya dengan nyaman. Mulai dari parkir khusus bagi penyandang disabilitas, beserta pemberian hukuman bagi masyarakat bukan penyandang disabilitas yang menempati parkir khusus tersebut. Sehingga mereka yang membawa mobil khusus atau motor khusus seperti motor roda tiga dapat parkir dengan mudah.

Jalur khusus yang didesain nyaman bagi penyandang disabilitas saat memasuki stasiun. Dilengkapi dengan guilding block yang menjadi penunjuk arah, sehingga penyandang tuna netra dapat melakukan aktivitasnya secara mandiri.

Disediakan lift khusus bagi penyandang disabilitas agar mereka tidak berdesakan dengan masyarakat umum yang memiliki pergerakan normal dan terkadang terburu-buru di stasiun.

Disediakan jalur prioritas menuju gerbong khusus penyandang disabilitas. Dalam gerbong kereta api pun kursi bagi penyandang disabilitas perlu disesuaikan terutama bagi pengguna kursi roda.

Bagi tunawicara yang kesulitan untuk bertanya kepada orang lain, maka perlu disediakan teknologi canggih yang menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan orang tunawicara dan difabel lainnya memperoleh informasi secara mudah.

Selain teknologi, yang paling utama adalah memperhatikan sumber daya manusianya. Petugas kereta atau stasiun harus dengan sigap dan sabar membantu para penyandang disabilitas, serta mengerti bahasa yang mereka gunakan. Oleh sebab itu, petugas Kereta Api perlu diberikan pelatihan bahasa isyarat agar dapat melayani penumpang berkebutuhan khusus.

Hal tersebut perlu dilakukan agar tidak ada satu orangpun atau suatu kelompok yang merasa tersisihkan, karena bangsa Indonesia haruslah menjunjung tinggi kesetaraan dan keadilan, sesuai dengan amanat Pancasila sila ke 2 yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”.